JCCNetwork.id- Guru Besar Ilmu Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, Profesor Anom Bowolaksono, mengungkapkan bahwa bakteri Wolbachia, yang telah diaplikasikan di beberapa negara, seperti Australia dan Singapura, membuktikan keefektifannya dalam menekan laju kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Masalah bagi manusia adalah bagaimana menurunkan angka penderita DBD. Sampai saat ini penyakit DBD masih belum ada obatnya. Maka dari itu salah satu alternatifnya adalah memutus rantai vektor dengan cara menekan populasi nyamuk pembawa virus Dengue,” katanya, seperti dilansir dari Antara, Sabtu (2/12/2023).
Prof. Anom menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri Wolbachia mampu mengurangi kapasitas reproduksi nyamuk dengan menyasar pada jaringan reproduksi. Pada nyamuk jantan, bakteri ini membuatnya lebih feminin dan tidak mampu menghasilkan spermatozoa, sementara pada nyamuk betina, Wolbachia menyerang jaringan reproduksi sehingga nyamuk tersebut tidak bisa bertelur.
Dengan demikian, nyamuk yang terinfeksi Wolbachia menjadi tidak berkembang dan tidak dapat menularkan virus Dengue pada manusia yang terkena gigitan.
Prof. Anom juga menegaskan bahwa nyamuk yang telah terinfeksi Wolbachia tidak memiliki kaitan dengan penyakit radang otak atau Japanese encephalitis. Nyamuk yang menyebarkan penyakit tersebut adalah nyamuk Culex, sedangkan di Indonesia, nyamuk Aedes aegypti yang diinfeksi Wolbachia.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Maxi Rein Rondonuwu juga memastikan bahwa penyebaran nyamuk Wolbachia telah melalui kajian dan analisis risiko yang melibatkan peneliti top di Indonesia. Ia menekankan perlunya monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memantau dan mengetahui perkembangan penyebaran nyamuk Wolbachia.
Dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan lima kota yang direncanakan Kemenkes sebagai lokasi uji coba penyebaran nyamuk Wolbachia, yaitu Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Bontang, dan Kupang. Pemilihan wilayah ini didasari oleh tingginya laju kasus DBD, mencapai di atas rata-rata global, yaitu 10 per 100 ribu populasi.



