JCCNetwork.id- Siapakah Don Bosco? Kenapa banyak sekolah Katolik di Indonesia menggunakan namanya? Ini rahasia menggetarkan tentang nama itu yang harus kamu tahu. Santo Yohanes Bosco, yang lebih dikenal sebagai Don Bosco, adalah seorang tokoh agama katolik yang menginspirasi. Ia mendirikan Kongregasi Salesian, sebuah komunitas yang mendedikasikan diri untuk melayani kaum muda.
Nama “Salesian” diambil dari Santo Fransiskus dari Sales, yang dikenal karena kebaikan hati dan kelembutannya. Kongregasi ini telah menyebar di seluruh dunia dan mengelola berbagai lembaga pendidikan.
Don Bosco adalah satu-satunya Orang Kudus yang memiliki hampir 20 pengikut muda, semuanya berusia kurang dari 20 tahun, yang diakui oleh Gereja dan menjalani proses kanonisasi. Karenanya, Gereja mengangkatnya sebagai Pelindung Kaum Muda.
Salah satu pengikut Don Bosco yang terkenal adalah Santo Dominic Savio, yang menjadi Orang Kudus non-martir termuda ketika ia wafat pada usia 14 tahun. Dominic Savio adalah murid yang mendapat pengajaran langsung dari Don Bosco.
Don Bosco lahir pada 16 Agustus 1815, di Becchi, Italia. Ayahnya, Francesco, seorang petani miskin, meninggal dunia saat Don Bosco baru berusia dua tahun. Ibunya, Margarita, dengan tekun mencoba menghidupi keluarganya. Ia mengajarkan kepada Don Bosco kebaikan Tuhan melalui alam sekitar, bahkan dalam kemiskinan mereka.
Mama Margarita mengajarkan Don Bosco untuk melihat Tuhan dalam sesama, terutama dalam orang-orang miskin. Ia mengajak mereka berdoa dan memberikan makanan kepada yang membutuhkan.
Saat Don Bosco berusia sembilan tahun, ia memiliki mimpi yang menentukan hidupnya. Dalam mimpi tersebut, ia melihat dirinya berbicara dengan anak-anak di sebuah lapangan. Namun, anak-anak itu bertindak kasar, dan Don Bosco berusaha untuk mengubah perilaku mereka. Kemudian, seorang sosok Agung datang dan memberinya nasihat: “Bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, kamu akan menjadikan mereka temanmu.”
Don Bosco juga memiliki bakat sebagai ahli sulap dan akrobat. Ia mempelajari atraksi sirkus dan kemudian menampilkan kebolehannya di depan teman-temannya. Namun, ia selalu mengakhiri pertunjukan dengan berbicara tentang Tuhan dan mengajak mereka berdoa.
Pertunjukannya menyebar ke seluruh desa tetangga, dan ia memanfaatkannya untuk berbagi ajaran agama kepada anak-anak. Don Bosco menyadari panggilannya untuk menjadi seorang imam, dan imam setempat memperhatikan pertumbuhan imannya yang luar biasa.
Don Bosco diterima komuni dua tahun lebih awal dari usia biasanya karena imam setempat melihat perkembangan rohaninya yang istimewa.
Seorang misionaris yang dikenal sebagai Don Calosso kemudian datang di desa Buttigliera dengan tujuan memberikan pelajaran agama. Bosco, dengan tekad bulat memutuskan untuk mengikuti setiap pelajaran agama yang diberikan oleh Don Calosso, bahkan ia harus berjalan sejauh 16 kilometer setiap hari.
Namun, Antonio, saudara tirinya, menentang keras keinginan Yohanes untuk belajar, mengklaim bahwa saatnya Bosco bekerja. Akhirnya, diambil keputusan untuk membagi waktunya: pagi hari ia akan belajar dengan Don Calosso di pastoran, dan sesudahnya, ia harus bekerja di sawah.
Yohanes belajar dengan tekun, bahkan membawa bukunya ke sawah dan belajar hingga larut malam. Tindakan ini sangat menjengkelkan Antonio, yang pada suatu hari memutuskan untuk membuang semua buku-buku Bosco dan bahkan mencambuknya dengan ikat pinggangnya.
Untuk melindungi Bosco, Mama Margarita akhirnya membuat keputusan yang sangat menyedihkan hatinya sendiri: ia menyuruh Bosco pergi.
Pagi yang dingin di bulan Februari 1827, Yohanes, yang baru berusia 12 tahun, meninggalkan rumahnya dengan tekad mencari pekerjaan. Namun, musim dingin adalah saat yang sulit untuk mencari pekerjaan, karena pertanian membutuhkan tenaga kerja pada musim panas.
Setiap tempat yang Bosco kunjungi menolaknya. Hingga akhirnya, ia tiba di rumah Tn. Luigi Moglia, seorang petani kaya dekat Moncucco.
Tn. Luigi menyarankan agar Bosco pulang dan datang kembali pada Hari Raya Kabar Sukacita. Namun, Yohanes memohon agar diberi kesempatan untuk tinggal tanpa bayaran. Tetapi Bosco bersikeras, bahkan bersedia duduk di lantai sebagai tanda keputusannya. Tergerak oleh belas kasihan, akhirnya Tn. Luigi menerima Bosco untuk bekerja sebagai penggembala sapi.
Bosco mengerjakan pekerjaannya dengan gembira, memerah susu, menumpuk jerami, dan bahkan membajak sawah. Selama waktu ini, ia sangat fokus pada imannya kepada Tuhan dan menghadapi tantangan dengan tekun.
Kembali ke Rumah Jadi Penjahit
Beberapa tahun kemudian, Antonio saudara tirinya pindah ke daerah lain, dan Bosco kembali ke rumahnya untuk melanjutkan pendidikannya. Ia bekerja sebagai penjahit, tukang roti, tukang sepatu, tukang kayu, dan banyak pekerjaan lainnya untuk membiayai pendidikannya.
Sebagai seorang pelajar, Bosco menonjol dan bahkan membentuk kelompok religius bernama “Kelompok Sukacita” bersama teman-temannya. Ia menjadi pemimpin yang bersemangat dalam kelompok ini dan menekankan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan keadilan.
Bosco juga memiliki seorang sahabat, Luigi Comollo, yang menjadi teladan baginya dalam mengendalikan emosi dan kemarahan. Mereka berdua memiliki kepribadian yang berbeda namun tetap dekat, seperti air dan api. Luigi mengajarkan Bosco untuk menguasai diri dan meredam kemarahannya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Bosco memasuki Seminari Chieri pada usia 20 tahun. Sang ibu mendukung keputusan ini. Mama Margarita, yang selalu menekankan pentingnya kesetiaan terhadap panggilan hidupnya.
Tak lama kemudian, Luigi Comollo juga mengikuti langkah Bosco dan mengungkapkan niatnya untuk mengabdikan diri pada imamat. Keduanya memiliki kesepakatan rahasia, bahwa siapa pun yang meninggal lebih dulu akan memberi tahu yang lain tentang kebahagiaan abadi di sisi Tuhan.
Pada tanggal 2 April 1839, setelah Paskah, Luigi meninggal karena demam. Bosco sangat berduka, dan malam setelah pemakamannya, kejadian tak terduga terjadi. Seolah-olah suara kereta kuda atau kereta api melaju di lorong, dan suara ini tampak juga ada cahaya terang yang muncul di kamar Yohanes. Suara lembut terdengar, “Bosco, aku selamat.” Bosco merasa penuh sukacita dan syukur atas pengalaman tersebut.
Pada 5 Juni 1841, Uskup Turin mengangkat Yohanes Bosco sebagai seorang imam kemudian banyak mengenalnya dengan nama Don Bosco. Ia merasa bahagia karena panggilannya untuk melayani Tuhan telah terwujud. Ia mulai berkarya di kota Turin di bawah bimbingan seorang imam saleh, Santo Yoseph Cafasso.
Bosco segera terpukul oleh kondisi anak-anak jalanan di Turin yang hidup dalam kemiskinan dan kekacauan akibat revolusi industri. Mereka menjadi liar dan menimbulkan kerusuhan. Bosco melihat mereka bertaruh di jalanan dan berusaha mencapai keinginan mereka dengan cara apa pun.
Khususnya di daerah pinggiran kota dan pasar Porta Palazzo, ia melihat anak-anak menderita akibat dampak buruk revolusi industri. Mereka adalah korban dari pengangguran yang meningkat di kota karena banyaknya penduduk desa yang bermigrasi ke sana. Kondisi ini menyebabkan lebih banyak keluarga hidup di bawah garis kemiskinan.
Salah satu pengalaman yang sangat menggetarkan Bosco adalah kunjungannya ke penjara, di mana ia melihat anak-anak usia 12 hingga 18 tahun hidup dalam kondisi mengerikan dan kekurangan makanan. Don Bosco merasa harus melakukan sesuatu untuk mencegah para anak dan remaja ini berakhir di penjara.
Bosco menyadari bahwa para imam di Turin sudah menyadari masalah ini, tetapi mereka tidak memiliki pendekatan yang efektif. Mereka berharap anak-anak akan datang ke gereja untuk belajar agama, tetapi pendekatan ini tidak efektif. Don Bosco percaya bahwa pendekatan yang lebih aktif sangatlah penting, seperti mendatangi anak-anak di toko-toko, kantor-kantor, dan pasar-pasar.
Don Bosco Mendirikan Komunitas Anak Muda
Bosco mendirikan komunitas anak-anak muda yaitu Oratorio. Mereka berkumpul pada hari Minggu, mengikuti Misa, belajar agama, dan bermain bersama. Don Bosco juga membantu mereka mencari pekerjaan dan memberikan pendidikan setelah bekerja. Jumlah anggota Oratorio terus bertambah hingga mencapai empat ratus orang.
Bosco juga mengajarkan mereka untuk menjauhi dosa dengan mendaraskan Salam Maria tiga kali setiap malam. Ia mendorong mereka untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi dan Komuni Kudus secara teratur.
Meskipun Bosco menghadapi berbagai rintangan dan hambatan, seperti kekurangan dana dan perlawanan dari beberapa imam lain, ia terus berjuang untuk membantu anak-anak muda yang kurang beruntung ini.
Pada suatu hari, Don Bosco bertemu dengan seorang remaja jalanan yang berubah pikiran setelah berbicara dengan Don Bosco. Remaja ini, Bartolomeo Garelli, membawa teman-temannya ke Oratorio, dan dari sinilah komunitas anak-anak muda ini terus berkembang.
Don Bosco percaya bahwa ia mendapatkan panduan dari Tuhan melalui mimpi-mimpinya. Dalam salah satu mimpinya, ia melihat dirinya berjalan di sebuah taman yang indah, di mana ia menghadapi berbagai rintangan dan ujian, tetapi akhirnya mencapai tempat yang lebih baik. Ini memberinya keyakinan bahwa ia harus terus maju dan setia pada panggilannya untuk membantu anak-anak muda.
Bosco juga menghadapi gangguan dari setan dalam berbagai bentuk selama perjalanannya. Namun, dengan kekuatan imannya dan dukungan dari anak-anak asuhnya, ia berhasil mengatasi semua rintangan ini.
Don Bosco Mendirikan Komunitas Puteri-Puteri Maria
Selain membantu anak-anak muda laki-laki, Don Bosco juga membentuk komunitas perempuan, yaitu Puteri-Puteri Maria Pertolongan Orang Kristen di bawah kepemimpinan Maria Mazzarello. Mereka membantu anak-anak perempuan yang kurang beruntung dengan memberikan pendidikan dan pelatihan.
Bosco juga mendirikan Serikat Salesian Awam, yang terdiri dari kaum awam yang bersedia membantu karya-karyanya.
Pada tahun 1862, Bosco mengalami masalah kesehatan serius yang membuatnya harus beristirahat selama beberapa bulan. Selama masa pemulihannya, ia merenungkan cara untuk menjadikan karyanya lebih berkelanjutan. Inilah saat ia mulai merumuskan prinsip-prinsip bagi Ordo Salesian, yang nantinya akan menjadi Serikat St. Fransiskus Salesius (atau Salesian) hingga saat ini.
Pada 18 Desember 1859, Paus Pius IX memberikan persetujuan akhir untuk pembentukan Serikat Salesian. Ini menandai awal dari Ordo Salesian yang secara resmi Gereja Katolik akui keberadaannya.
Pada tahun 1864, Bosco mendirikan sebuah rumah di Valdocco, Turin, yang menjadi pusat karya-karyanya. Ia membangun gereja, sekolah, dan tempat tinggal bagi anak-anak muda. Don Bosco juga mengembangkan sebuah sistem pendidikan yang khusus, yang kemudian santer sebagai Sistem Pendidikan Salesian. Ini adalah sistem yang terkenal karena pendekatan yang unik terhadap pendidikan, yang menggabungkan iman, akademik, dan pembentukan karakter.
Bosco terus berkarya dengan tekun hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada tanggal 31 Januari 1888. Setelah kematiannya, karyanya terus berkembang di seluruh dunia, dengan Serikat St. Fransiskus Salesius (Salesian) menjadi salah satu ordo religius Katolik terbesar di dunia yang mengabdikan diri pada pendidikan dan pelayanan kepada anak-anak dan remaja yang kurang beruntung.
Pada tahun 1934, Paus Pius XI mengangkat Bosco menjadi santo, dan ia sebagai pelindung para pemuda oleh Gereja Katolik.
Bosco adalah contoh yang menginspirasi tentang bagaimana satu orang dapat membuat perbedaan besar dalam hidup banyak anak-anak yang kurang beruntung melalui iman, cinta, dan dedikasi mereka. Ia dihormati oleh banyak orang di seluruh dunia karena karyanya dalam membantu generasi muda. Semoga dapat menjawab tentang siapakah Don Bosco?



