Emas Gagal Tembus US$4.800

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Harga emas dunia masih belum mampu menembus level psikologis US$4.800 per ons troi, meskipun sentimen pasar mulai menunjukkan perbaikan di tengah harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026), harga emas spot tercatat turun 1,05% ke US$4.790,8 per ons troi, setelah sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 18 Maret.

- Advertisement -

Hingga Kamis (16/4/2026) siang, harga emas masih bergerak terbatas dan belum berhasil menembus batas tersebut.

Analis pasar dari Pepperstone, Michael Brown, menyebut level US$4.800 sebagai titik krusial yang harus dilewati untuk memperkuat tren kenaikan emas di mata investor.

“Kami terus melihat emas diperdagangkan lebih mirip aset berisiko tinggi daripada aset aman. Selain itu, emas batangan terus menunjukkan sedikit atau tidak ada korelasi dengan pendorong tradisional, seperti nilai dolar atau di mana imbal hasil riil diperdagangkan. Dengan mengingat hal itu, dan dinamika tersebut tampaknya tidak akan berubah untuk saat ini,” kata Brown dikutip dari Kitco.

- Advertisement -

Menurutnya, pelaku pasar masih cenderung berhati-hati meskipun ada optimisme terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

“Saya berpendapat bahwa prospek emas bergantung pada konflik Timur Tengah yang tetap berada di jalur menuju de-eskalasi, seperti yang kita lihat saat ini. Jika hal itu tetap terjadi, maka saya memperkirakan emas batangan akan tetap didukung, dengan jalur yang terus mengarah ke atas untuk saat ini,” paparnya.

Ia menilai pergerakan emas saat ini menunjukkan karakter yang berbeda, di mana logam mulia tersebut lebih diperdagangkan seperti aset berisiko dibandingkan aset lindung nilai tradisional.

Selain itu, korelasi emas terhadap faktor-faktor utama seperti pergerakan dolar AS dan imbal hasil riil dinilai semakin melemah.

Lebih lanjut, Brown menegaskan bahwa arah harga emas dalam waktu dekat sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait peluang deeskalasi konflik.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, emas diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat.

Di sisi lain, ia juga melihat potensi penguatan emas seiring pergeseran fokus investor dari krisis menuju dampak ekonomi jangka panjang.

Kondisi ekonomi Amerika Serikat yang dinilai tetap solid turut menjadi faktor pendukung, termasuk stabilnya konsumsi domestik dan pemulihan pasar saham yang berpotensi menjaga daya beli kelompok berpenghasilan tinggi.

“Amerika Serikat bukan hanya pengekspor energi bersih, tetapi konsumen juga berada dalam kondisi yang relatif baik sebelum konflik pecah. Selain itu, pemulihan di Wall Street seharusnya memungkinkan ‘efek kekayaan’ untuk terus berlanjut, yang selanjutnya menopang pengeluaran konsumen di kalangan berpenghasilan tinggi,” pungkasnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

El Nino 2026 Ancam Krisis Multisektor

JCCNetwork.id- Ancaman fenomena iklim ekstrem yang dijuluki El Nino Godzilla 2026 mulai memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas sosial dan ekonomi di Indonesia. Dampaknya diperkirakan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER