Kehadiran tokoh-tokoh seperti Khofifah Indar Parawansa, Gus Fahrur, Gus Ipul, hingga Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar memperkuat legitimasi keputusan tersebut.
Terlihat bahwa NU mengupayakan soliditas di tengah arus dinamika politik dan sosial yang bergerak cepat.
Secara organisasi, penetapan Pj Ketum bukan hanya soal formalitas mengganti posisi, tetapi langkah strategis untuk memastikan roda organisasi tetap berjalan tanpa hambatan.
Dengan adanya Pj Ketum, NU dapat menjaga kesinambungan program, stabilitas struktur, serta kepercayaan publik.
Zulfa Mustofa sebagai figur yang lama berkecimpung di NU dinilai mampu mengemban tugas transisi tersebut.
Konsensus yang terbentuk di pleno memperlihatkan bahwa NU tengah menjalankan prinsip “islah” atau perbaikan internal meskipun dalam tekanan dinamika kebangsaan.
Pada akhirnya, pleno PBNU kali ini tidak hanya melahirkan Pj Ketum, tetapi juga menunjukkan kedewasaan NU sebagai organisasi besar yang mampu mengelola transisi tanpa turbulensi.






