JCCNetwork.id-Meili Junita mungkin tak mengenakan kebaya layaknya sosok Kartini di masa lampau. Namun semangat emansipasinya tetap menyala, kali ini lewat sepasang sepatu lari yang menuntunnya menembus batas dalam ajang lari ekstrem kelas dunia.
Perempuan tangguh asal Indonesia itu kembali menyatakan tekadnya untuk berlaga di Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB), lomba lari ultra-trail bergengsi yang melintasi jalur pegunungan menantang di tiga negara: Prancis, Italia, dan Swiss. Ajang ini dijadwalkan rutin setiap bulan Agustus, dengan rute sepanjang 176 kilometer dan elevasi mencapai lebih dari 10.000 meter di atas permukaan laut.
“Saya ingin kembali ke UTMB. Ini salah satu ajang lari ultra-trail paling prestisius di dunia. Hampir semua pelari elite berkumpul di sana, bukan hanya untuk berkompetisi, tapi juga merayakan semangat lari bersama di pegunungan Eropa,” ujar Meili dalam keterangannya.
Meili memasang target pribadi untuk kembali tampil pada UTMB edisi 2026 mendatang. Tak sekadar ambisi pribadi, perjuangannya juga membawa pesan kuat bagi para perempuan Indonesia.
“Semoga mimpi saya tercapai. Tahun 2026 nanti saya bisa kembali ke UTMB dan membawa mimpi perempuan Indonesia bahwa kita juga bisa,” ucapnya penuh semangat.
Selain UTMB, Meili juga dikenal sebagai pelari ultra yang pernah mengikuti Spartathlon, lomba lari legendaris sejauh 246 kilometer dari Athena ke Sparta, Yunani. Ajang ini dikenal sebagai salah satu yang paling ekstrem di dunia, mengikuti jejak sejarah Pheidippides, kurir perang Yunani kuno.
Dalam peringatan Hari Kartini tahun ini, Meili menyuarakan pesan inspiratif kepada seluruh perempuan Indonesia.
“Jangan takut mengejar mimpi. Seperti moto saya: no woman is limited. Semua perempuan Indonesia jangan ragu untuk bermimpi. Apa pun cita-citanya, kejar dan pertahankan. Kamu pasti bisa,” tegasnya.
Perjalanan Meili sebagai pelari ultra tak datang dengan mudah. Enam tahun lalu, ia hanyalah seorang perempuan biasa yang memutuskan untuk mulai hidup sehat usai sang ayah jatuh sakit. Saat itu, ia berusia 32 tahun dan belum pernah menekuni dunia olahraga secara serius.
“Saya cuma ingin hidup lebih sehat. Bertemu dengan komunitas pelari, saya akhirnya menemukan lebih dari sekadar kesehatan—saya menemukan keluarga, kawan, dan kepuasan batin. Dari situ saya jatuh cinta pada dunia lari, termasuk trail running,” ungkapnya.
Kini, di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelaku UMKM di bidang kelontong, Meili tetap disiplin berlatih. Ia juga aktif menyebarkan semangat hidup sehat di komunitas lokalnya, terutama di kalangan perempuan.
“Saya ingin mengajak perempuan, khususnya di sekitar saya, untuk mulai berolahraga dan punya cita-cita. Kita bisa meraih prestasi yang bisa kita banggakan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk anak cucu kita nanti,” tuturnya.
Meili Junita bukan sekadar pelari. Ia adalah simbol dari perempuan Indonesia yang berani menembus batas, mendobrak ketakutan, dan berlari sejauh mimpi bisa dicapai.























