JCCNetwork.id- Penjualan gerai Starbucks di Indonesia mengalami penurunan yang signifikan pada kuartal pertama tahun 2024. Hal ini diakui oleh Ratih D. Gianda, VP Head of Investor Relations, Corporate Communications & Sustainability PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP).
Dalam pernyataannya pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Paparan Publik MAP Group, yang dilansir oleh Media Indonesia pada Jumat, 28 Juni 2024, Ratih menjelaskan bahwa penurunan penjualan ini sebagian besar disebabkan oleh aksi boikot yang dilakukan masyarakat.
“Kuartal I kan minus 17 persen. Kalau last year gross-nya kan 16,6 persen jadi sudah tentu ada dampaknya. Namun tidak terjadi di setiap toko, hanya beberapa toko,” ujarnya melansir Media Indonesia, Jumat, 28 Juni 2024.
MAP menyayangkan aksi boikot ini karena perusahaan sebenarnya tidak terlibat dalam konflik tersebut. Ratih menekankan bahwa boikot ini merugikan ekonomi Indonesia, bukan hanya Starbucks.
100 persen karyawan kami adalah warga Indonesia. Melalui gerai-gerai Starbucks, kami telah membantu menyerap banyak tenaga kerja di seluruh negeri ini.
Starbucks, sebagai salah satu anak perusahaan MAP, juga terlibat dalam berbagai aksi sosial yang signifikan, seperti menyediakan air bersih untuk masyarakat dan mendukung para petani lokal. Menurut Ratih, aksi boikot yang dilakukan tanpa pemahaman yang tepat dapat merugikan lebih banyak pihak daripada yang disadari oleh para pelaku boikot itu sendiri.
“Dan ini kita harapkan sesaat saja dan education itu penting sekali sebelum berbuat. Kita menginginkan orang berpikir boikot itu tepat sasaran dan kenapa dan harus memikirkan akibatnya juga,” jelas dia.
Sejauh ini, MAP telah menutup dua gerai, yakni satu gerai Starbucks dan satu gerai Subway. Ratih menyebutkan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan masa depan Starbucks dan kelangsungan hidup para karyawannya.
Kami berpikir jangka panjang mengenai keberadaan Starbucks dan dampaknya terhadap tenaga kerja. Masyarakat perlu memahami pentingnya kehadiran Starbucks dalam mendukung perekonomian dan penyediaan lapangan kerja di Indonesia. Boikot yang tidak dipikirkan dengan matang hanya akan menyebabkan lebih banyak kerugian
“Kami menyerap tenaga kerja, tidak ada orang asing. Kalau ada boikot enggak buka toko artinya kita enggak banyak menyerap tenaga kerja kan. Itu yang harus ditekankan. Orang-orang harus lebih teredukasi melihat sesuatu itu dengan dipikirkan lagi apa dampaknya,” jelas dia.
“Kita masih sangat positif terhadap pasar Indonesia. Kita tidak mau gegabah untuk cepat-cepat tutup toko karena sekali lagi tutup toko berarti memecat orang,” ujar dia.
Dengan penekanan pada dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan oleh tindakan boikot, MAP berharap agar masyarakat dapat lebih memahami dan mendukung keberadaan perusahaan yang telah berkontribusi besar terhadap perekonomian lokal.



