JCCNetwork.id- Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Pespektif Jakarta, Andre Vincent Wenas, menyoroti pernyataan kontroversial dari petinggi partai politik terkemuka terkait dengan dinamika politik pasca-pemilu.
Pernyataan ini mencuat dalam wawancara dengan KompasTV dan menampilkan Deddy Sitorus, salah satu tokoh utama dari partai banteng, yang mengungkapkan dugaannya bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin menghancurkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Dalam wawancaranya, Deddy Sitorus menyebutkan bahwa hubungan antara Jokowi dan PDIP terus berlanjut, meskipun ada asumsi bahwa Jokowi memiliki niat untuk menghancurkan partai tersebut
“Dalam wawancaranya dengan KompasTV ketika ditanyakan tentang hubungan (komunikasi) Jokowi dengan PDIP atau terutama dengan Bu Mega sejauh ini, dijawabnya: “Hubungan bagaimana, orang cita-cita dia menghancurkan PDIP kok masih ada hubungan dari mana?” (Wawancara KompasTV dengan Deddy Sitorus, Politisi Golkar dan PDIP Bicara Isu Jokowi Gabung ke Partai Golkar, Maret 2024),” dikutip dalam keterangan Andre Vincent, Selasa (12/3/2024).
Menurut Andre Vincent , pernyataan ini dianggap sebagai manifestasi ketegangan internal yang muncul dalam partai politik setelah hasil pemilu baru-baru ini.
“Ini lebih menunjukkan kesewotan parpol itu akibat “kekalahannya” dalam kontestasi pilpres barusan. Cari kambing hitam ketimbang melakukan koreksi ke lingkaran dalam partainya,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, juga menyuarakan kekhawatiran terkait dengan integritas Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam proses pemilu. Dalam pernyataannya, Hasto menuding adanya “kekuatan besar” yang berupaya mengintersep hasil hitung cepat dengan menggunakan sistem Sirekap.
Namun, lanjut Andre Vincent, tuduhan ini disambut dengan skeptisisme oleh sebagian pihak, dengan beberapa menganggapnya sebagai upaya untuk menciptakan narasi konspirasi. Terutama, Hasto menuduh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai pihak yang diuntungkan dari tindakan tersebut.
“Wuih, dahsyat sekali. Walau tak dijelaskan siapa “kekuatan besar itu” yang telah meng-intercept KPU. Ini seperti khayalan atau imajinasi anak SD yang kalah main kelereng lalu menyalahkan bunyi klakson truk yang telah mengagetkannya,” tambah Andre Vincent.



