JCCNetwork.id – Presiden Taiwan yang baru, Lai Ching-te, memenangkan masa jabatan ketiga berturut-turut untuk Partai Progresif Demokratik (DPP), menjadi peristiwa bersejarah. Dalam pidato kemenangannya, Lai menegaskan tekadnya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
China, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian integralnya, menolak unifikasi tanpa kekerasan. Lai, yang dianggap China sebagai ancaman perdamaian, menyatakan komitmennya untuk melawan intimidasi.
“Kami bertekad menjaga Taiwan dari ancaman dan intimidasi yang terus berlanjut dari China,” katanya kepada para pendukungnya, dinukil dari AFP dari CNNIndonesia.
China telah memperingatkan penduduk Taiwan terkait pemilihan presiden ini, menyebut Lai sebagai “bahaya besar.” Meski demikian, Lai berhasil meraih dukungan dengan 40,2 persen suara, mengungguli pesaingnya dari oposisi Kuomintang (KMT), Hou Yu-ih, yang mendapatkan 33,5 persen suara.
Pemilu ini mendapat perhatian ketat dari China dan mitra militer Taiwan, Amerika Serikat, yang bersaing untuk memperoleh pengaruh di Taiwan. Meskipun pemilihan ini telah berlangsung, upaya China untuk mengambil alih Taiwan diyakini tidak akan berhenti.
Keberhasilan Lai Ching-te mempertahankan jabatan presiden menandai ketegangan yang berlanjut antara Taiwan dan China serta komitmen Taiwan untuk mempertahankan kedaulatannya di tengah tekanan dari pihak yang menginginkan reunifikasi.



