JCCNetwork.id- Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Erupsi terjadi pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 12.23 WITA dengan kolom abu teramati mencapai sekitar 800 meter di atas puncak.
“Terjadi erupsi Gunung Ili Lewotolok pada hari Senin, 21 September 2026, pukul 12:23 WITA. Tinggi kolom letusan teramati ± 800 meter di atas puncak,” tulis Badan Geologi, Senin (21/9/2026).
Badan Geologi melaporkan kolom letusan tampak berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Material abu vulkanik teramati bergerak menuju arah barat dan barat laut dari pusat erupsi.
Erupsi tersebut tercatat oleh alat pemantauan kegempaan dengan amplitudo maksimum mencapai 40 milimeter. Durasi letusan berlangsung selama 29 detik.
Berdasarkan hasil pengamatan, tinggi kolom letusan mencapai sekitar 800 meter di atas puncak Gunung Ili Lewotolok. Dengan demikian, ketinggian material erupsi teramati sekitar 2.223 meter di atas permukaan laut.
Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyampaikan bahwa aktivitas tersebut menjadi bagian dari perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok yang terus dipantau.
Masyarakat yang berada di sekitar gunung api diminta memperhatikan seluruh ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan. Imbauan tersebut juga berlaku bagi pengunjung, pendaki, maupun wisatawan yang hendak mendatangi kawasan Gunung Ili Lewotolok.
PVMBG meminta masyarakat tidak memasuki kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya. Aktivitas masyarakat dilarang dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
Selain itu, larangan diperluas hingga radius 3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara. Area tersebut menjadi perhatian karena adanya potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok.
PVMBG juga mengingatkan adanya potensi guguran atau longsoran material lava serta awan panas. Ancaman tersebut dapat mengarah ke sejumlah sektor, terutama bagian selatan, tenggara, barat, dan timur laut Gunung Ili Lewotolok.
Karena arah penyebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi angin, masyarakat di sekitar kawasan gunung diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari petugas pemantauan.
Paparan abu vulkanik juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Untuk mengurangi dampaknya, warga dianjurkan menggunakan masker atau pelindung yang dapat menutup hidung dan mulut ketika beraktivitas di luar ruangan.
Perlindungan terhadap mata dan kulit juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik. Masyarakat turut diminta menutup tempat penampungan air bersih agar tidak tercemar material abu yang terbawa angin.
PVMBG meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok. Pos tersebut berada di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape.
Informasi dari pos pengamatan menjadi salah satu rujukan penting bagi masyarakat untuk mengetahui perkembangan terbaru aktivitas Gunung Ili Lewotolok, termasuk apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko bagi warga maupun wisatawan.
Dengan erupsi yang kembali terjadi pada Senin siang, masyarakat di sekitar kawasan Gunung Ili Lewotolok diminta tetap mematuhi batas-batas zona bahaya dan mengikuti setiap rekomendasi yang dikeluarkan oleh otoritas terkait.
























