JCCNetwork.id- Laporan terkini mengenai situasi Iran menunjukkan eskalasi korban jiwa di tengah gelombang demonstrasi yang terus berlangsung sejak akhir Desember.
Lembaga pemantau hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, HRANA, menyebut telah memverifikasi sedikitnya 646 kematian hingga Senin (12/1/2026) malam.
Data yang dihimpun HRANA merinci korban terdiri atas 505 demonstran, 113 anggota militer dan aparat keamanan, serta 7 warga sipil lainnya.
Di luar angka tersebut, lembaga itu masih melakukan verifikasi terhadap 579 laporan kematian tambahan yang belum dapat dipastikan.
HRANA juga melaporkan beredarnya rekaman video dari Pemakaman Behesht Zahra, Teheran, yang memperlihatkan keluarga korban berkumpul dan menyerukan slogan-slogan protes sebagai bentuk penolakan terhadap tindakan keras aparat.
Sejak aksi protes dimulai pada 28 Desember, jumlah orang yang telah ditahan dilaporkan mencapai 10.721 orang.
Di tengah meningkatnya tekanan internasional, pemerintah Iran menyatakan tetap membuka ruang komunikasi dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut muncul di saat Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan langkah balasan atas penindakan demonstran di Iran.
Selain opsi militer, Trump juga mengumumkan rencana kebijakan tarif. Pada Senin malam, ia menyatakan negara mana pun yang melakukan aktivitas bisnis dengan Iran akan dikenakan tarif 25 persen untuk ekspor mereka ke Amerika Serikat.
Trump menyebut kebijakan itu “final dan mutlak”, namun tidak merinci dasar hukum maupun cakupan negara yang akan terdampak. Hingga kini, Gedung Putih belum memberikan keterangan tambahan.
Respons Iran dan Konteks Perdagangan
Misi Iran untuk PBB di New York menolak memberikan komentar atas rencana tarif baru tersebut.
Iran saat ini telah berada di bawah sanksi berat AS, sementara ekspor minyaknya sebagian besar dialirkan ke China, dengan Turki, Irak, Uni Emirat Arab, dan India menjadi mitra perdagangan utama lainnya.
Sebelumnya, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melakukan serangan apabila aparat Iran menembak demonstran.
Ia juga menyebut kemungkinan pertemuan dengan pejabat Iran serta mengaku telah menjalin kontak dengan kelompok oposisi.
Gelombang demonstrasi di Iran awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi, namun berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk seruan agar rezim ulama yang telah lama berkuasa mundur dari tampuk pemerintahan.
Situasi di Iran masih dinamis, sementara jumlah korban jiwa dan penahanan terus diperbarui seiring proses verifikasi yang dilakukan berbagai pihak.























