JCCNetwork.id – Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent meminta negara-negara anggota G20 mengevaluasi kembali kebijakan perdagangan mereka dengan China.
Langkah itu dinilai penting untuk menekan ketimpangan perdagangan global sekaligus mendorong Beijing memperkuat konsumsi domestik.
Bessent menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan Reuters menjelang pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 di Asheville, Carolina Utara, Minggu (30/8/2026).
Menurut Bessent, surplus perdagangan China yang diperkirakan mencapai sekitar US$1,2 triliun telah menjadi persoalan bagi perekonomian dunia. Arus ekspor China yang terus meningkat, kata dia, sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
“Dunia tidak bisa memiliki China dengan surplus perdagangan sebesar US$ 1,2 triliun,” kata Bessent.
Ia menilai lemahnya kondisi ekonomi domestik China menjadi salah satu faktor yang mendorong negara tersebut mengandalkan ekspor untuk menopang pertumbuhan.
Kondisi itu, menurut Bessent, perlu diatasi melalui penyeimbangan kembali struktur ekonomi dengan meningkatkan konsumsi dalam negeri.
“Ekonomi China cukup lemah dan mereka mencoba keluar dari situasi tersebut melalui ekspor. Mereka perlu menyeimbangkan kembali ekonominya,” ujar Bessent.
Bessent juga menyinggung kebijakan perdagangan AS yang telah membatasi masuknya sejumlah produk China melalui penerapan tarif tinggi serta pembatasan terhadap produk tertentu, termasuk kendaraan.
Menurut dia, pembatasan akses ke pasar AS berpotensi membuat eksportir China mengalihkan produknya ke pasar lain.
Eropa dan Amerika Latin disebut menjadi salah satu tujuan pengalihan tersebut.
Atas kondisi itu, Bessent meminta negara-negara lain mengambil langkah serupa dengan mengevaluasi aturan perdagangan masing-masing terhadap China.
Ia berharap perubahan kebijakan perdagangan di berbagai negara dapat memberikan tekanan kepada Beijing untuk mengurangi ketergantungannya terhadap ekspor dan meningkatkan kekuatan permintaan domestik.
“Negara-negara lain di dunia harus meninjau ketentuan perdagangan mereka dengan China,” kata Bessent.






















