Pemerintah Didesak Hentikan Lelang PLTSa Gegara Potensi Risiko Beban Rp499 Triliun untuk Negara

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id  – Ketua Bidang Tindak Pidana Korupsi Lembaga Aliansi Indonesia (LAI), Agustinus Petrus Gultom, menyerukan agar pemerintah menghentikan proses lelang proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PLTSa) yang saat ini digarap oleh PT Danantara.

Agustinus menekankan bahwa teknologi PLTSa berbasis insinerasi (waste-to-energy) yang dipaksakan memiliki biaya tinggi, tidak efisien bagi karakteristik sampah di Indonesia, dan berpotensi membebani APBN maupun APBD hingga belasan triliun rupiah setiap tahun.

- Advertisement -

“Bila ditelisik lebih seksama ini sangat berpotensi membebani APBN dan APBD hingga belasan triliun rupiah setiap tahun dalam jangka Panjang,” kata Agustinus, Sabtu (3/1/2026).

Rencana pembangunan 33 fasilitas PLTSa diperkirakan membutuhkan investasi awal sekitar Rp100 triliun. Padahal, menurut Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, pengelolaan sampah berbasis Pengurangan, Pemilahan, dan Pengolahan Material (PSE non-PLTSa) hanya membutuhkan kurang dari Rp15 triliun untuk cakupan nasional yang sama.

“Dengan demikian, potensi pemborosan negara mencapai lebih dari Rp80 triliun pada tahap awal, belum termasuk biaya subsidi listrik, jaminan pemerintah, dan kewajiban fiskal jangka Panjang,” tandasnya.

- Advertisement -

Lebih jauh, Agustinus menekankan penggunaan PLTSa dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari diperkirakan membutuhkan investasi kurang lebih Rp3 triliun per lokasi, menghasilkan listrik sekitar 25 MW, dan harga beli listrik oleh PLN sekitar 20 sen USD/kWh.

Dengan skema Independent Power Producer (IPP) selama 30 tahun, akumulasi kewajiban fiskal negara dapat mencapai sekitar Rp500 triliun. Skema ini dinilai membebani keuangan negara, mengunci APBN/APBD dalam kontrak jangka panjang, dan mengalihkan risiko kepada publik.

“Pendekatan pemilahan dan pengolahan sampah lebih efisien, hanya butuh sekitar Rp15 triliun, bisa hasilkan RDF, daur ulang plastik dan logam, kompos, serta potensi carbon credit, dan bisa diterapkan sekitar tahun terbukti sukses di proyek nasional maupun internasional,” ungkapnya.

Menurut Agustinus, anggaran puluhan hingga ratusan triliun rupiah sebaiknya dialihkan untuk penyediaan fasilitas kesehatan, peningkatan kualitas hidup buruh, dan penciptaan iklim investasi yang sehat serta berkelanjutan.

“Pengelolaan sampah harus menjadi kebijakan publik jangka panjang, bukan proyek mercusuar yang membebani generasi mendatang. Pemerintah perlu mengambil keputusan berdasarkan data, efisiensi anggaran, dan kepentingan fiskal negara serta daerah,” pungkasnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Legislator PDIP Dorong Pemerintah Fokus Pemenuhan Tenaga Medis Spesialis

JCCNetwork.id- Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDIP, Edy Wuryanto menyarankan agar pemerintah tidak hanya terpaku pada penambahan jumlah dokter umum, melainkan lebih fokus...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER