JCCNetwork.id-Pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayya, pada Selasa (7/10) mendesak adanya jaminan internasional yang mengikat untuk memastikan berakhirnya perang antara Israel kelompoknya di Jalur Gaza.
“Kami menegaskan kesiapan kami mencapai (kesepakatan) untuk mengakhiri perang, menarik pasukan Israel dari Gaza, dan membebaskan semua tawanan Israel – baik yang hidup maupun yang mati – dengan imbalan tahanan Palestina sesuai rencana (Presiden AS Donald) Trump,” ujar al-Hayya kepada saluran berita pemerintah Mesir, Al-Qahera News.
“Namun, Israel masih terus membunuh dan memblokade bantuan, terutama di Gaza utara, sejak kami mengumumkan persetujuan kami atas rencana Trump.”
Pernyataan tersebut disampaikan saat putaran kedua perundingan tidak langsung antara Hamas dan Israel berlangsung di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan tujuan mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan berdasarkan rencana 20 poin yang diajukan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.
Al-Hayya menegaskan bahwa Hamas telah menyatakan kesiapan untuk menyetujui kesepakatan yang mencakup penghentian perang, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta pembebasan seluruh tawanan Israel – baik yang hidup maupun yang telah meninggal – dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina.
“Israel tidak pernah menepati janjinya sepanjang sejarah,” katanya.
“Kami telah menguji pemerintahan pendudukan dan tidak mempercayainya sedetik pun,” kata al-Hayya, seraya meminta “jaminan nyata” dari komunitas internasional, Presiden Trump, dan negara-negara yang mendukung perundingan.
Ia menekankan bahwa Hamas berupaya mencapai “tujuan dan aspirasi rakyat Palestina untuk stabilitas, kebebasan, kenegaraan, dan penentuan nasib sendiri.
“,Perang harus diakhiri selamanya agar rakyat Palestina dapat hidup dalam stabilitas seperti bangsa-bangsa lain di kawasan ini.”
Al-Hayya juga menuduh Israel telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada November 2023 dan terus melancarkan serangan militer, khususnya di Gaza utara.
Ia menyatakan bahwa Israel tidak pernah menepati janji sepanjang sejarah.
Rencana yang diumumkan Trump pada 29 September lalu mencakup gencatan senjata, pembebasan tawanan di kedua pihak, perlucutan senjata Hamas, dan upaya rekonstruksi Gaza.
Hamas disebut telah menyetujui proposal tersebut secara prinsip.
Konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 67.200 warga Palestina, menurut data otoritas kesehatan Gaza, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak.
Serangan udara dan blokade Israel juga telah menyebabkan krisis kemanusiaan, termasuk kelaparan, pengungsian massal, dan penyebaran penyakit.



