JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Selasa setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut memperkuat permintaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan memengaruhi pergerakan mata uang di kawasan Asia.
Rupiah dibuka melemah 26 poin atau setara 0,15 persen ke posisi Rp17.939 per dolar AS. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.913 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan rupiah. Ketegangan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, sehingga harga minyak mentah kembali mengalami kenaikan.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timteng yang memicu harga minyak mentah dunia kembali naik,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, situasi geopolitik yang semakin tidak menentu dapat meningkatkan kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan investasi. Dalam kondisi tersebut, dolar AS cenderung menjadi pilihan bagi pelaku pasar yang mencari aset dengan tingkat likuiditas tinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Tekanan terhadap rupiah juga muncul ketika harga energi dunia mengalami kenaikan. Bagi negara yang masih membutuhkan impor minyak, peningkatan harga komoditas tersebut berpotensi menambah beban pembayaran dalam valuta asing dan memengaruhi kebutuhan terhadap dolar AS.
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak
Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar setelah muncul laporan mengenai serangan yang melibatkan kelompok Ansarullah atau Houthi di Yaman dan wilayah Arab Saudi.
Mengutip laporan Xinhua, Ansarullah menyatakan telah meluncurkan serangan rudal balistik yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
Juru Bicara Militer Ansarullah, Yahya Sarea, juga menyebut kelompoknya melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak atau drone terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, wilayah barat daya Arab Saudi. Pihak Ansarullah mengklaim serangan tersebut mengenai sasaran secara langsung.
Selain itu, Ansarullah melaporkan bahwa Arab Saudi telah melancarkan 119 serangan ke sejumlah wilayah yang dikuasai kelompok tersebut. Wilayah yang disebut dalam laporan itu mencakup Bandara Internasional Sanaa di ibu kota Yaman dan kawasan Selat Bab al-Mandab.
Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan kawasan Timur Tengah, yang memiliki peran penting dalam perdagangan dan distribusi energi dunia. Ketidakpastian mengenai kelanjutan konflik maupun potensi gangguan jalur transportasi energi menjadi perhatian para pelaku pasar komoditas.
Meski demikian, klaim mengenai serangan yang disampaikan pihak-pihak terkait tersebut perlu dipandang sebagai pernyataan masing-masing pihak dalam konflik.
Meningkatnya ketegangan geopolitik turut tercermin dalam pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional. Minyak menjadi salah satu komoditas yang sensitif terhadap perkembangan keamanan di kawasan Timur Tengah, terutama ketika konflik berpotensi mengganggu produksi, distribusi, maupun jalur pengiriman energi.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat ditutup menguat 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent mengalami kenaikan 1,84 persen ke level 106,65 dolar AS per barel.
Kenaikan kedua acuan harga minyak tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan pasar energi global.
Bagi perekonomian Indonesia, perubahan harga minyak dunia perlu dicermati karena dapat memengaruhi biaya impor energi, kebutuhan valuta asing, serta tekanan terhadap neraca perdagangan. Apabila harga minyak bertahan tinggi, beban pembayaran impor energi berpotensi meningkat dan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Arus Modal Keluar Tambah Tekanan
Selain perkembangan di pasar energi, kondisi pasar keuangan domestik juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Lukman menyoroti arus modal keluar atau outflow dari pasar saham domestik yang masih berlangsung. Pergerakan tersebut dapat menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia, terutama ketika investor global meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko geopolitik dan perubahan kondisi ekonomi dunia.
Arus modal keluar dari pasar saham mencerminkan berkurangnya dana investor pada instrumen ekuitas domestik. Jika kondisi ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS, tekanan terhadap mata uang rupiah berpotensi semakin besar.
Di sisi lain, pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga terpantau bergerak melemah pada awal perdagangan Selasa.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan terhadap mata uang regional turut dipengaruhi sentimen eksternal, bukan semata-mata faktor yang berasal dari perekonomian Indonesia. Ketika ketidakpastian global meningkat, pergerakan dolar AS, harga komoditas, dan arus investasi internasional dapat memengaruhi nilai tukar berbagai mata uang secara bersamaan.
Meski demikian, besarnya tekanan terhadap masing-masing mata uang tetap bergantung pada kondisi ekonomi, kebijakan moneter, serta respons pasar keuangan di setiap negara.
Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.850–Rp18.000
Dengan mempertimbangkan perkembangan geopolitik, kenaikan harga minyak mentah, arus modal keluar di pasar saham domestik, serta pelemahan sejumlah mata uang Asia, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan Selasa.
Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah berada pada rentang Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Kisaran tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan eksternal yang berpotensi memengaruhi permintaan terhadap dolar AS. Pergerakan harga minyak dan dinamika konflik di Timur Tengah menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.
Apabila ketegangan geopolitik terus meningkat dan harga minyak bertahan pada level tinggi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut. Sebaliknya, meredanya ketidakpastian global dapat membantu mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, meskipun pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi kondisi pasar keuangan domestik.
Pelaku pasar diperkirakan tetap memperhatikan perkembangan konflik, perubahan harga komoditas energi, serta pergerakan mata uang regional untuk menentukan langkah investasi berikutnya.
Dengan demikian, arah perdagangan rupiah pada Selasa masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Perkembangan di Timur Tengah menjadi perhatian utama karena dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar minyak, tetapi juga berpotensi merambat ke pasar valuta asing dan pasar keuangan Indonesia.























