Rupiah Melemah ke Rp17.918 per Dolar AS

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Rabu setelah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang domestik tersebut dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

 

- Advertisement -

Rupiah dibuka pada level Rp17.918 per dolar AS, melemah 18 poin atau 0,10 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp17.900 per dolar AS.

 

Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan menghadapi tekanan dalam perdagangan hari ini. Menurutnya, kenaikan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan mata uang Indonesia.

- Advertisement -

 

“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas, tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

 

Kenaikan harga minyak mentah tersebut berlangsung ketika pasar energi internasional mencermati perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik di kawasan itu kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah muncul laporan mengenai serangan terhadap fasilitas milik perusahaan energi Arab Saudi.

 

Mengutip laporan Anadolu, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan sebuah gedung administrasi milik Saudi Aramco di Dhahran, wilayah timur negara tersebut, menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan kelompok Ansarullah Yaman atau Houthi pada Selasa malam.

 

Serangan tersebut memicu kebakaran kecil di lokasi kejadian. Tim tanggap darurat dilaporkan telah merespons insiden tersebut dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menangani dampaknya.

 

Pihak berwenang Arab Saudi juga memastikan tidak terdapat laporan korban luka maupun korban jiwa akibat kejadian tersebut.

 

Perkembangan itu turut menjadi perhatian pasar energi karena Arab Saudi merupakan salah satu pemain penting dalam industri minyak dunia. Ketidakpastian keamanan di kawasan penghasil energi berpotensi meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelancaran pasokan minyak mentah global.

 

Berdasarkan laporan Xinhua, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November naik 1,89 dolar AS atau 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

 

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Desember turut mengalami kenaikan sebesar 1,93 dolar AS atau 1,84 persen. Harga minyak acuan internasional tersebut mencapai 106,65 dolar AS per barel di bursa ICE Futures London.

 

Lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Kenaikan harga komoditas tersebut dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk pembayaran impor energi sekaligus memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kondisi ekonomi dan inflasi.

 

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah diperkirakan tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal tersebut. Perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor dalam menentukan arah pergerakan mata uang.

 

Lukman menjelaskan, rupiah masih berpeluang memperoleh dukungan dari koreksi indeks dolar AS serta penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST).

 

Sentimen positif tersebut berkaitan dengan pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed), John C. Williams, yang dinilai cenderung dovish atau menunjukkan sikap lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

 

“Pejabat the Fed John Williams melihat sekali kenaikan suku bunga tahun ini, namun menilai tidak diperlukan kenaikan lebih lanjut pada tahun 2027,” ungkap Lukman.

 

Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena prospek suku bunga AS memiliki pengaruh terhadap pergerakan dolar di pasar keuangan global. Ekspektasi bahwa kenaikan suku bunga tidak akan berlanjut secara agresif dapat mengurangi daya tarik dolar dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak lebih stabil.

 

Apabila indeks dolar AS mengalami koreksi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS terus menurun, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda. Namun, arah pergerakan mata uang domestik tetap bergantung pada kombinasi sentimen global dan perkembangan data ekonomi terbaru.

 

Selain memantau perkembangan harga minyak dan kebijakan bank sentral AS, pelaku pasar juga cenderung mengambil sikap menunggu atau wait and see menjelang pengumuman data inflasi Amerika Serikat pada Rabu malam.

 

Data inflasi tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran mengenai arah tekanan harga di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. Hasilnya juga berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed ke depan.

 

Inflasi inti AS diperkirakan meningkat dari 2,4 persen menjadi 2,5 persen. Sementara itu, inflasi umum diproyeksikan naik dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen.

 

Jika inflasi tercatat lebih tinggi daripada perkiraan, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.

 

Sebaliknya, apabila realisasi inflasi lebih rendah dari ekspektasi pasar, dolar AS berpeluang menghadapi tekanan karena investor dapat memperkirakan ruang pelonggaran kebijakan moneter yang lebih besar.

 

Ketidakpastian mengenai hasil data inflasi tersebut membuat sebagian investor cenderung menahan transaksi besar sambil menunggu kepastian arah pasar. Sikap hati-hati ini diperkirakan turut memengaruhi pergerakan rupiah sepanjang perdagangan.

 

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.

 

Rentang tersebut mencerminkan peluang pergerakan rupiah yang relatif terbatas, dengan kecenderungan melemah apabila kenaikan harga minyak dunia berlanjut dan dolar AS kembali menguat.

 

Dengan demikian, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, arah kebijakan The Fed, serta rilis inflasi AS menjadi sejumlah faktor utama yang perlu dicermati investor untuk menentukan arah rupiah dalam perdagangan selanjutnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Prabowo Ubah Arah Komunikasi Pemerintah

JCCNetwork.id– Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) memperkuat komunikasi dua arah dengan masyarakat.Bakom tidak hanya bertugas menyampaikan kebijakan dan program pemerintah, tetapi...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER