JCCNetwork.id- Harga minyak mentah dunia bergerak melemah tipis pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, setelah muncul laporan mengenai rencana Amerika Serikat (AS) melonggarkan sanksi terhadap kapal tanker minyak. Upaya Badan Energi Internasional (IEA) mempercepat pelepasan cadangan minyak darurat turut memberikan tekanan terhadap harga energi global.
Meski demikian, pelemahan harga minyak masih terbatas karena risiko gangguan pasokan belum mereda. Konflik di Timur Tengah terus membayangi pasar setelah Iran dilaporkan kembali menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pada saat bersamaan, ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman juga masih berlangsung.
Mengutip Investing.com, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak berjangka turun 0,4 persen menjadi USD97,58 per barel pada perdagangan Jumat. Kendati terkoreksi pada perdagangan pagi, WTI diperkirakan tetap mencatatkan penguatan sekitar 6,2 persen sepanjang pekan ini.
Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi salah satu acuan utama harga minyak dunia, ditutup pada level USD105,69 per barel pada Kamis. Secara mingguan, harga Brent tercatat meningkat 0,9 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan penurunan harga dalam jangka pendek belum sepenuhnya menghapus tren penguatan yang berlangsung sepanjang pekan. Pasar masih merespons perkembangan persediaan minyak Amerika Serikat, kebijakan pasokan energi, serta situasi geopolitik yang berpotensi mengganggu distribusi minyak internasional.
Kenaikan harga minyak sebelumnya dipicu oleh data yang memperlihatkan penurunan tajam persediaan minyak mentah AS pada pekan sebelumnya. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan dan mendorong harga minyak melonjak pada perdagangan Kamis.
Di tengah dinamika tersebut, laporan mengenai kemungkinan perubahan kebijakan sanksi AS terhadap kapal tanker menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak. Washington disebut sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang tergabung dalam armada bayangan atau shadow fleet.
Armada bayangan merupakan jaringan kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak mentah maupun produk turunannya dari negara-negara yang menghadapi sanksi internasional, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela.
Apabila kebijakan tersebut direalisasikan, pelonggaran sanksi berpotensi memperluas akses pengangkutan minyak dan membantu mengurangi biaya distribusi di pasar global. Langkah itu juga diharapkan dapat meredakan tekanan harga bahan bakar yang meningkat akibat ketidakpastian pasokan.
Namun, hingga saat ini belum terdapat kepastian mengenai realisasi rencana tersebut. Pelaku pasar masih menunggu kejelasan kebijakan AS, termasuk cakupan pelonggaran dan dampaknya terhadap arus perdagangan minyak internasional.
Sebelumnya, pemerintah AS juga mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dalam jumlah besar dengan Rusia. Kesepakatan tersebut diarahkan untuk membantu menekan kenaikan harga bahan bakar, terutama di tengah kekhawatiran mengenai terbatasnya pasokan produk olahan minyak.
Di sisi lain, prospek pasokan energi dari Rusia masih menghadapi ketidakpastian. Ukraina menyatakan akan meneruskan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia ketika upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara belum menunjukkan kemajuan berarti.
Serangan terhadap fasilitas energi berpotensi mengganggu produksi maupun distribusi minyak dan produk turunannya. Situasi tersebut membuat pasar harus memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan dari salah satu negara produsen energi utama dunia.
Dengan demikian, langkah untuk menambah ketersediaan minyak melalui pelonggaran sanksi dan kesepakatan pasokan belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan produksi serta distribusi.
Selain melalui kebijakan perdagangan, upaya menekan harga energi juga dilakukan dengan memanfaatkan cadangan minyak darurat. Pada Kamis, IEA menyetujui pelepasan lebih dari 20 juta barel diesel untuk membantu memenuhi kebutuhan pasar.
Lembaga tersebut juga memberikan sinyal akan mempercepat penyaluran sisa minyak dari program pelepasan cadangan darurat yang telah dijanjikan pada Maret 2026.
Pelepasan cadangan tersebut diharapkan dapat menambah pasokan dalam jangka pendek dan mengurangi tekanan harga diesel yang meningkat akibat gangguan distribusi dari Rusia serta kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, IEA memperingatkan bahwa pasar diesel global berpotensi tetap mengalami kondisi ketat hingga 2027. Peringatan tersebut menunjukkan bahwa penambahan pasokan melalui cadangan darurat belum tentu cukup untuk mengatasi seluruh persoalan struktural dalam rantai pasok energi dunia.
IEA juga memperkirakan permintaan minyak global akan mengalami penurunan sepanjang 2026. Proyeksi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan pasar, terutama apabila pelemahan konsumsi berlangsung bersamaan dengan bertambahnya pasokan minyak.
Di kawasan Timur Tengah, ancaman terhadap kelancaran perdagangan energi masih menjadi perhatian utama. Serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz meningkatkan risiko terhadap distribusi minyak, mengingat jalur pelayaran tersebut memiliki peran strategis dalam perdagangan energi internasional.
Gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi pengiriman minyak dari kawasan produsen Timur Tengah ke berbagai pasar dunia. Apabila situasi keamanan memburuk, biaya pengangkutan dan risiko distribusi berpotensi meningkat, sehingga dapat kembali memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang kembali diwarnai aksi saling serang pada pekan ini turut memperbesar ketidakpastian di kawasan tersebut.
Kondisi ini membuat pasar minyak menghadapi dua arah tekanan yang berbeda. Di satu sisi, potensi pelonggaran sanksi, pelepasan cadangan darurat, dan proyeksi penurunan permintaan dapat menahan kenaikan harga. Di sisi lain, konflik geopolitik dan ancaman terhadap jalur pelayaran penting berpotensi membatasi pasokan serta menjaga harga tetap tinggi.
Meski risiko keamanan masih membayangi, IEA mencatat ekspor minyak mentah dari Timur Tengah pada September 2026 telah mencapai sekitar 75 persen dari tingkat sebelum perang. Angka tersebut mengindikasikan adanya pemulihan aliran pasokan dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, pemulihan ekspor tersebut belum menghilangkan seluruh risiko yang dihadapi pasar. Perkembangan keamanan di kawasan dan kelancaran pelayaran tetap menjadi faktor penting dalam menentukan apakah arus distribusi minyak dapat kembali mendekati kondisi normal.
Ke depan, pergerakan harga minyak dunia akan bergantung pada perkembangan pasokan dan permintaan, kepastian kebijakan AS terhadap armada kapal tanker, serta pelaksanaan program pelepasan cadangan minyak darurat oleh IEA.
Selain itu, situasi konflik di Timur Tengah dan perkembangan perang Rusia-Ukraina juga akan menjadi perhatian pelaku pasar. Kombinasi antara kebijakan energi, kondisi persediaan, dan risiko geopolitik tersebut akan menentukan arah harga minyak dalam perdagangan berikutnya.
























