Rupiah Terjaga Meski Tekanan Global Meningkat

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa meskipun nilai tukar Rupiah sempat mengalami tekanan sebesar 0,70 persen secara point to point (ptp), kondisi stabilitasnya tetap terjaga. Hal ini menyusul penguatan Rupiah sebesar 0,06 persen (ptp) pada Mei 2024 dibandingkan dengan nilai tukar pada akhir bulan sebelumnya. Pernyataan ini disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers yang diadakan pada Kamis, 20 Juni 2024.

Menurut Perry, pelemahan yang terjadi pada nilai tukar Rupiah tersebut merupakan dampak dari tingginya ketidakpastian di pasar global. Salah satu faktor utama adalah ketidakpastian arah kebijakan penurunan Federal Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat. Di samping itu, penguatan mata uang dolar AS yang meluas serta ketegangan geopolitik yang belum mereda turut menambah tekanan pada Rupiah.

- Advertisement -

“Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga sesuai dengan komitmen kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia,” kata Perry dalam konferensi pers, Kamis, 20 Juni 2024.

Faktor domestik juga memainkan peran penting dalam dinamika nilai tukar. Perry menjelaskan bahwa meningkatnya permintaan valas oleh korporasi untuk keperluan repatriasi dividen serta kekhawatiran terhadap kesinambungan fiskal menjadi pemicu tambahan bagi tekanan terhadap Rupiah.

Meskipun Rupiah melemah sebesar 5,92 persen dari level akhir Desember 2023, performa ini masih lebih baik dibandingkan dengan mata uang negara lain di kawasan Asia dan Amerika Latin. Sebagai contoh, Won Korea melemah 6,78 persen, Baht Thailand 6,92 persen, Peso Meksiko 7,89 persen, Real Brazil 10,63 persen, dan Yen Jepang 10,78 persen dalam periode yang sama.

- Advertisement -

Ke depan, Perry optimistis bahwa nilai tukar Rupiah akan tetap stabil. Keyakinan ini didukung oleh sejumlah faktor positif seperti aliran masuk modal asing, tingkat imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid.

“Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter termasuk peningkatan intervensi di pasar valas serta penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI,” tutur dia.

- Advertisement -

Selain itu, Bank Indonesia juga berencana untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah, perbankan, dan dunia usaha. Langkah ini dimaksudkan untuk mendukung implementasi instrumen penempatan valas dari Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2023.

Dengan kebijakan dan langkah strategis yang terus dioptimalkan, Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi, baik dari dalam negeri maupun global.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Kenaikan MinyaKita Berisiko Ganggu Harga Komoditas

JCCNetwork.id-  Ketua DPR Puan Maharani mengungkapkan kekhawatirannya atas kenaikan harga dan kelangkaan minyak goreng bersubsidi MinyaKita. Situasi ini perlu segera diatasi untuk menghindari dampak negatif...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER