JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan drastis. Pasca libur panjang Idulfitri, rupiah kini mencapai Rp16 ribu per USD.
Data dari Yahoo Finance pada Selasa, 16 April 2024, menunjukkan bahwa rupiah melemah 270 poin atau 1,71 persen menjadi Rp16.109 per USD. Ini merupakan penurunan signifikan dari posisi sebelumnya, di mana pada penutupan perdagangan 5 April 2024, rupiah masih bertahan di posisi Rp15.839 per USD.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.099 hingga Rp16.109 per USD.
Sementara itu, data dari Bloomberg menunjukkan penurunan lebih lanjut bagi rupiah, dengan merosot 294,5 poin atau 1,86 persen menuju level Rp16.142,5 per USD.
Perlu dicatat bahwa sejak 9 April 2020, rupiah mencatatkan posisi terendahnya di kisaran Rp15.880 per USD.
Analisis dari FX Empire menunjukkan bahwa performa dolar AS terhadap mata uang utama menjadi fokus utama bagi para trader, terutama setelah data terbaru mengenai harga produsen AS.
Data harga produsen (PPI) Maret yang di bawah perkiraan menunjukkan perlambatan inflasi, yang berpotensi mempengaruhi kebijakan Federal Reserve.
Pada pukul 14:27 WIB, indeks dolar AS berjangka diperdagangkan pada 105,150, naik 0,120 atau +0,11 persen.
Indeks harga produsen Maret naik tipis 0,2 persen, di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,3 persen. Hal ini menandakan potensi perlambatan tekanan inflasi, dengan kenaikan tahunan sebesar 2,1 persen, sedikit di bawah prediksi 2,2 persen.
Dengan meredanya narasi inflasi yang agresif, pasar berjangka memperkirakan peluang 72 persen untuk penurunan suku bunga Federal Reserve di bulan September.
Revisi ekspektasi penurunan suku bunga yang lebih rendah menunjukkan sikap yang kurang agresif dalam penyesuaian suku bunga, yang harus menjadi pertimbangan utama bagi para pedagang dolar.























