JCCNetwork.id – Perusahaan Listrik Negara (PLN ) menyampaikan proyeksi produksi hidrogen hijau atau Green Hydrogen Plant di Indonesia akan menjadi pilihan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan di masa mendatang. Pengumuman ini menyusul resmi diresmikannya 21 unit ‘Green Hydrogen Plant’ di beberapa wilayah Indonesia pada tanggal 20 November 2023.
General Manager PT PLN Indonesia Power (IP) Priok Power Generation Unit (PGU), Subawa Putra, menyatakan bahwa kendaraan berbahan bakar hidrogen sudah umum di luar negeri, dan saatnya Indonesia juga ikut serta. Proyek ini dimulai dengan membangun pasokan atau ekosistem dari hulu melalui Green Hydrogen Plant.
“Kemudian nanti di sisi hilirnya akan dibangun pompa (pom) hidrogen atau Hydrogen Refueling Station (HRS),” kata Subawa, melansir Antara, Kamis (7/8/2023).
Dari segi komersial, Subawa menjelaskan bahwa hidrogen adalah bahan bakar paling ekonomis jika dibandingkan dengan baterai (kendaraan listrik) dan bensin. Biaya hidrogen dari 21 Green Hydrogen Plant diperkirakan hanya sekitar Rp355 per kilometer, sementara electric vehicle (EV) sekitar Rp370 per kilometer, dan mobil bensin mencapai Rp1.600 per kilometer.
“Saya kira kedepan, ini adalah salah satu energi yang cukup menjanjikan. Mudah-mudahan pemerintah juga akan mengeluarkan kebijakan untuk mendorong pembangunan Green Hidrogent Plant ini untuk transportasi dan untuk sisi pembangkit,” kata Subawa.
Ia juga menambahkan bahwa produsen mobil saat ini menantikan keberadaan pompa hidrogen tersebut agar mereka dapat memulai produksi mobil hidrogen di Indonesia. Dengan adanya ekosistem transportasi berbahan bakar hidrogen, Subawa optimistis bahwa target pemerintah untuk mencapai beban emisi pada tahun 2060 dapat tercapai.
“Sehingga pelan-pelan transisi energi di Indonesia ini akan bisa kita capai sesuai dengan rontok yang sudah dicanangkan oleh pemerintah 2060 net zero emission,” kata Subawa.



