JCCNetwork.id- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, menyatakan bahwa pemerintah terus berkomitmen untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.
Menteri menyoroti pentingnya meningkatkan peran laki-laki dalam pengasuhan anak dan penggunaan kontrasepsi sebagai faktor utama dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi.
“Kita memang masih dalam pengaruh patriarki yang kuat, namun hal ini optimistis kita bisa perbaiki bersama. Pengasuhan dan pendidikan anak bukanlah tugas ibu semata, tetapi perlu dibagi secara setara antara ibu dan ayah,” kata Bintang, Minggu (5/11/2023).
Bintang Puspayoga menekankan bahwa angka kematian ibu memiliki dampak signifikan terhadap kelangsungan hidup anak dan stabilitas keluarga yang ditinggalkan. Lebih dari separuh bayi yang kehilangan ibunya saat melahirkan berisiko tinggi mengalami kematian sebelum berusia satu tahun. Dengan kata lain, kematian ibu saat melahirkan meningkatkan risiko kematian bayi.
Pemerintah telah menetapkan target untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) menjadi 183 kasus per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) menjadi 16 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2024.
“Jika melihat data BPS tahun 2020 dimana AKI di Indonesia tercatat 189 per 100.000 kelahiran dan AKB sebesar 16,85 per 1.000 kelahiran hidup, maka angka ini masih jauh dari target,” kata Bintang.
Menteri Bintang menekankan pentingnya komitmen dan kerja keras dari semua pihak yang terlibat dalam penanganan isu perempuan dan anak untuk mencapai target penurunan AKI dan AKB hingga tahun 2024.




