JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (20/8/2026). Penguatan mata uang Garuda terjadi ketika dolar AS bergerak melemah di tengah perhatian investor terhadap perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter global.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip pada Kamis pagi, rupiah berada di level Rp17.794 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 46 poin atau sekitar 0,26 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.840 per dolar AS.
Penguatan juga tercatat berdasarkan data Yahoo Finance. Pada waktu yang sama, rupiah berada di kisaran Rp17.839 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang tercatat Rp17.851 per dolar AS.
Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih berlangsung dinamis. Analis pasar mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi mengalami tekanan hingga akhir perdagangan meski pada pembukaan mampu menguat.
Menurut proyeksinya, rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis.
Fluktuasi tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri. Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan ekonomi domestik sekaligus perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS.
BI Rate Jadi Penopang Rupiah
Dari dalam negeri, salah satu faktor yang dinilai memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah adalah keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar di tengah kondisi pasar keuangan global yang masih menghadapi tekanan.
Ibrahim menyebut kebijakan suku bunga BI tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dari dampak gejolak global. Kondisi geopolitik, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah, menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar.
“Keputusan suku bunga ini tetap konsisten dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah,” ujar Ibrahim.
Stabilitas suku bunga dan nilai tukar menjadi perhatian karena perubahan sentimen global dapat mendorong perpindahan dana investor ke aset yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Investor Pantau Selat Hormuz
Dari eksternal, ketidakpastian geopolitik masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar valuta asing. Investor mencermati perkembangan hubungan antara Teheran dan Washington, terutama terkait status Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi lalu lintas pelayaran dan perdagangan energi dunia.
Sinyal yang belum sepenuhnya sejalan dari Iran dan Amerika Serikat membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan. Perkembangan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dan sentimen pasar global.
Kondisi geopolitik tersebut turut menjadi perhatian karena perubahan harga energi dapat berdampak terhadap inflasi serta prospek pertumbuhan ekonomi berbagai negara.
Selain perkembangan di Timur Tengah, pasar juga mengamati kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Investor menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga AS setelah melihat risalah rapat The Fed pada Juli 2026.
Risalah tersebut menjadi salah satu rujukan pelaku pasar untuk menilai pandangan para pembuat kebijakan terhadap perkembangan inflasi serta kemungkinan langkah moneter berikutnya.
Arah suku bunga The Fed menjadi faktor penting bagi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang. Kebijakan moneter yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar, sementara prospek pelonggaran kebijakan berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang lain.
Dengan berbagai faktor tersebut, perdagangan rupiah pada Kamis diperkirakan tetap bergerak fluktuatif. Penguatan pada pembukaan belum serta-merta menunjukkan arah pergerakan hingga penutupan karena pasar masih merespons perkembangan sentimen domestik, geopolitik, dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada respons investor terhadap perkembangan global serta data dan kebijakan ekonomi yang muncul sepanjang perdagangan.














