Kuliner Puncak Rasul, Kelezatan Kue Bersejarah Bernilai Spiritual

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Kuliner Puncak Rasul adalah sebuah hidangan yang tak hanya menggoyang lidah, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan spiritual yang mendalam. Terinspirasi dari cahaya agama Islam, kue ini tak hanya memanjakan perut, tetapi juga merangkul hati para penikmatnya.

Kuliner Puncak Rasul juga merupakan simbol mendalam dari nilai-nilai keagamaan dan budaya masyarakat Kabupaten Berau, Kalimantan Timur junjung tinggi.

- Advertisement -

Kue Puncak rasul telah ada sejak zaman kerajaan di Kabupaten Berau. Konon pada zaman kerajaan kue berbahan dasar ketan ini merupakan menu wajib berbagai acara syukuran dan keagamaan.

 

Warna Kuliner Puncak Rasul Memiliki Makna Filosofis

 

- Advertisement -

Kue Puncak Rasul biasanya berwarna cerah seperti warna kuning, merah, dan putih. Namun tidak sekedar aspek untuk mempercantik tampilan, warna-warna ini memiliki nilai filosofisnya tersendiri. Masyarakat Berau melambangkan warna putih sebagai sosok Nabi Muhammad sebagai teladan yang baik bagi kehidupan berketuhanan hingga bermasyarakat.

Warna kuning pada kue mewakili keluarga kerajaan Berau. Sedangkan warna merah mewakili pelayan kerajaan seperti menteri dan penjaga kerajaan yang mengayomi masyarakat.

Kuliner ini terdiri dari bahan-bahan berkualitas yang di gabungkan dengan keahlian tangan yang terampil. Rasanya yang lezat dan unik menggambarkan keanekaragaman budaya dan cita rasa yang ada di tanah air. Setiap gigitan dari Kue Puncak Rasul adalah perjalanan menyelami khazanah rasa Indonesia yang tak tergantikan.

Tambahan informasi, Kabupaten Berau berasal dari Kesultanan Berau yang berdiri sekitar abad ke-14. Menurut sejarah Berau, Raja pertama yang memerintah bernama Baddit Dipattung dengan gelar Aji Raden Surya Nata Kesuma. Pusat pemerintahan kerajaan pada awalnya berkedudukan di Sungai Lati (sekarang menjadi lokasi pertambangan Batu Bara PT Berau Coal).

Awal sekitar abad XVIII datanglah penjajah Belanda memasuki kerajaan Berau dengan berkedok sebagai pedagang (VOC). Kemudian melakukan politik De Vide Et Impera. Kelicikan Belanda berhasil memecah belah Kerajaan Berau, sehingga kerajaan terpecah menjadi 2 Kesultanan. Yaitu Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.

Pada saat bersamaan masuk pula ajaran agama Islam ke Berau yang di bawa oleh Imam Sambuayan dengan pusat penyebarannya di sekitar Sukan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Dua Kubu Keraton Solo Saling Lapor

JCCNetwork.id- Perselisihan internal di Keraton Kasunanan Surakarta berlanjut ke jalur hukum. Polresta Solo menerima dua aduan dari pihak yang berseberangaekn, masing-masing terkait dugaan penganiayaan serta...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER

300 Brimob Dikerahkan Atasi Karhutla

AS Desak G20 Tinjau Dagang China

Destry Resmi Dipilih Pimpin BI

BMKG Waspadai Hujan dan Angin Kencang

Dua Kubu Keraton Solo Saling Lapor

Ruben Onsu Terseret Dugaan Penipuan