Harga Minyak Dunia Naik Tipis

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga minyak mentah dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Selasa, 25 Agustus 2026. Pelaku pasar mencermati dampak sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran serta potensi respons Teheran yang dapat memengaruhi pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Investing.com, harga minyak Brent berjangka tercatat naik 0,15 persen menjadi USD92,31 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,3 persen ke level USD85,28 per barel.

- Advertisement -

Penguatan tersebut terjadi sehari setelah harga minyak mengalami penurunan cukup tajam pada perdagangan Senin. Penurunan sebelumnya dipengaruhi aksi ambil untung investor setelah muncul tanda-tanda peningkatan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Meski lalu lintas kapal mulai menunjukkan perbaikan, kondisi pelayaran di jalur strategis tersebut masih belum kembali seperti sebelum pecahnya konflik. Aktivitas pengiriman barang dan energi tercatat masih berada di bawah level normal.

Kondisi tersebut membuat pasar tetap memberikan perhatian besar terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak bahkan masih mencatat kenaikan lebih dari 5 persen dibandingkan posisi pada pekan sebelumnya.

- Advertisement -

AS Perketat Tekanan terhadap Iran

Pemerintah AS pada Senin mengumumkan paket sanksi baru yang menyasar 60 entitas dan individu yang disebut memiliki keterkaitan dengan Iran. Washington juga memberikan peringatan kepada negara lain agar berhati-hati dalam menjalin hubungan ekonomi dengan Teheran.

Namun, kebijakan tersebut belum disertai penetapan sanksi terhadap negara tertentu. Waktu pemberlakuan sejumlah langkah dalam kebijakan baru itu juga belum sepenuhnya dipastikan.

Daftar sasaran sanksi terbaru turut menjadi perhatian karena tidak mencantumkan entitas asal China yang selama ini dikaitkan dengan aktivitas perdagangan minyak Iran.

China diketahui menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran. Meski Washington berulang kali mengkritik aktivitas perdagangan tersebut, kebijakan terbaru AS belum secara langsung menyasar bank-bank China yang berkaitan dengan transaksi minyak Iran.

Situasi itu membuat pasar menilai dampak langsung sanksi terbaru terhadap ekspor minyak Iran masih perlu dicermati. Kebijakan AS berpotensi menekan perekonomian Iran, tetapi belum secara otomatis mengurangi seluruh aliran minyak dari negara tersebut ke pasar global.

Iran Berpotensi Merespons

Di sisi lain, Iran memberikan sinyal bahwa tekanan baru dari Washington tidak akan dibiarkan tanpa respons. Teheran sebelumnya juga telah mengisyaratkan kemungkinan mengambil langkah yang dapat mengganggu arus perdagangan dan pengiriman minyak di kawasan Timur Tengah.

Ancaman gangguan terhadap jalur pelayaran menjadi perhatian utama pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Setiap peningkatan ketegangan di sekitar jalur tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai kelancaran distribusi minyak. Kondisi itu dapat mendorong pelaku pasar menaikkan premi risiko dalam perdagangan minyak mentah.

Sanksi terbaru AS juga menunjukkan perubahan penekanan kebijakan Washington terhadap Iran. Tekanan terhadap Teheran kini semakin diarahkan melalui instrumen ekonomi dan keuangan, setelah sebelumnya ketegangan kedua negara banyak dikaitkan dengan ancaman serta aktivitas militer.

Namun, efektivitas tekanan ekonomi tersebut masih menjadi perhatian. Iran telah menghadapi berbagai bentuk sanksi AS selama beberapa dekade dan tetap mempertahankan aktivitas ekspor minyaknya melalui sejumlah jalur perdagangan.

Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar

Perkembangan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah harga minyak dalam beberapa hari terakhir.

Data terbaru menunjukkan lalu lintas komersial di kawasan tersebut mulai meningkat. Kendati demikian, volume pelayaran masih jauh di bawah kondisi sebelum konflik.

Sebelum terjadi gangguan, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Karena itu, setiap hambatan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan energi global.

Pasar kini menunggu perkembangan lebih lanjut terkait hubungan AS dan Iran, penerapan sanksi baru, serta respons Teheran. Investor juga mencermati apakah peningkatan lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan berlanjut atau kembali terganggu akibat eskalasi ketegangan.

Pergerakan harga minyak pada perdagangan Selasa menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi salah satu penentu utama pasar energi. Selama belum ada kepastian mengenai stabilitas jalur pelayaran dan penyelesaian konflik di Timur Tengah, risiko gangguan pasokan tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Dengan kondisi tersebut, harga minyak diperkirakan masih sensitif terhadap setiap perkembangan terkait kebijakan AS, respons Iran, dan situasi keamanan di sekitar jalur perdagangan energi utama kawasan tersebut.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Infantino Tertekan Jelang Pemilihan FIFA

JCCNetwork.id — Dukungan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino untuk kembali memimpin organisasi sepak bola dunia mulai tergerus. Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) menjadi anggota terbaru...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER