Teranyar dua orang warga di Kecamatan Semanu diduga terkena antraks dengan luka yang muncul di tubuh mereka. Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul telah mengambil sampel darah mereka dikirim ke laboratorium guna memastikan jenis penyakit yang bersangkutan.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty. Ia memastikan bahwa hasil pemeriksaan sampel belum keluar.
“Saat ini masih melakukan penelusuran terkait riwayat kenapa dua orang tersebut memiliki gejala antraks,” kata Dewi Irawaty,
Jumat (14/7/2023).
Sementara itu Ketua DPRD Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, merekomendasikan agar bupati menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks. Langkah ini akan memungkinkan penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) yang bisa digunakan untuk penanganan antraks maupun penyakit ternak lainnya seperti Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Endah menekankan bahwa Pemerintah Kabupaten Gunungkidul harus bertindak cepat dan sistematis mengingat wilayah tersebut merupakan gudang ternak. DPRD Gunungkidul memberikan rekomendasi terkait antraks pada Selasa, 18 Juli 2023.
“Harus ada gerak cepat, salah satunya lewat KLB ini. Masyarakat sangat menggantungkan pada sektor peternakan,” katanya.
Di samping itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak pemerintah betul serius menuntaskan masalah penyakit antraks yang menyerang hewan ternak. Kasus ini dinilai sangat membahayakan dan telah menimbulkan korban jiwa, menjadi PR yang mendesak bagi Pemerintah untuk segera menyelesaikannya demi ketenangan masyarakat.
Selain itu, para peternak juga menderita kerugian baik secara materiil maupun imateriil akibat sejumlah penyakit hewan tersebut.
Di tengah situasi tersebut, Mentan (Menteri Pertanian) melalui instruksi meminta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk tidak menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait kasus antraks di wilayah tersebut.



