Oleh: Willi Nafie
JCCNetwork.id– Misteri di persimpangan jalan Paskah. Setiap manusia di muka bumi ini, Tuhan izinkan melalui berbagai fase terendah dalam hidupnya. Hal itu untuk mengajarkannya pelajaran yang tak bisa ia pelajari dengan cara lain, kecuali lewat cara-Nya Tuhan.
Alkitab secara jelas memberi tahu bahwa Yesus Kristus datang ke dunia untuk melakukan tiga hal. Pertama mengampuni dosa masa lalu kita, menerangkan tujuan hidup, dan memberi jaminan bagi yang percaya pada-Nya pasti masuk surga.
Paskah adalah perayaan tertua di dalam Gereja Kristen yang menghubungkan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paskah biasanya dilaksanakan dengan Tri Hari Suci, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, dan Minggu Paskah. Momentum pekerjaan rohani paling dahsyat yang pernah terjadi di muka bumi ini. Pasalnya, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus itu untuk menebus dosa umat manusia.
Terkait penulisan ini, saya tidak bisa menguraikan terlalu panjang Paskah dalam konteks teologis. Pasalnya, penulis bukanlah rohaniawan atau juga pendeta yang memiliki ilham mengulas soal Paskah dari perspektif Alkitabiah. Namun penulis ingin membagikan soal misteri di persimpangan jalan Paskah versi pengalaman pribadi.
Jadi, penulis ingin membagikan pengalaman hidup dari kisah nyata terkait momentum Paskah belasan tahun lalu. Di mana, lewat peristiwa yang penulis alami, membuat penulis mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini selalu ada tujuannya Tuhan.
Tuhan yang penulis dan umat Kristen panggil dengan sebutan Bapa itu, tidak akan membawa anak-anak-Nya hanya dalam garis lurus saja dalam hidup, namun ada tikungan, belokan, tanjakan.
Bahkan, kekecewaan dan kehancuran yang di alami oleh manusia pun bisa di ubah Tuhan menjadi berkat, guna menunjukkan kasih setia-Nya dan mengajarkan manusia untuk menaruh harapan pada janji Allah.
Jelang Paskah (Malam Jumat Agung) Ditangkap Polisi
Sekitar tahun 2004, saya dan beberapa senior kala itu berkumpul di salah satu persimpangan jalan di kota kelahiran saya. Tepatnya Nekafehan, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Masa-masa itu sebagai seorang remaja hidup saya selalu bertemankan minuman keras dan kenakalan remaja lainnya.
Tempat nyaman untuk bercengkramah kala itu bukanlah rumah, namun di emperan jalan. Di jalananlah saya bisa melakukan apa saja secara bebas tanpa larangan. Waktu terus berlalu, hidup saya masih berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Namun ada satu kenangan yang tak bisa terlupakan saat masa-masa Paskah seperti saat ini.
Suatu hari, tepatnya malam Kamis Putih, seperti biasa kala itu kami duduk bercerita sambil bernyanyi di iringi petikan gitar. Tak lupa juga sambil menengak minuman keras. Sekitar pukul 23:00 WIT, ada sorotan cahaya lampu sebuah bus malam mengarah ke pandangan kami yang sedang dalam kondisi mabuk miras.
Lalu seorang senior menginstruksikan saya dan seorang teman lagi untuk berdiri di tengah jalan. Berdua teman yang di perintah, tanpa ragu lantas bangun dalam keadaan mabuk berat menyetop bus malam tersebut.
Berdua yang kala itu masih berstatus sebagai siswa SMA, saya kelas 1 dan rekan saya siswa SMA kelas 2, tanpa banyak pikir langsung menaiki bus. Di dalam kami melakukan pemalakan. Namun, sebelum sang sopir memberi uang, terjadi cekcok mulut hingga berdiri dua orang penumpang mengaku sebagai aparat.
Pengakuan mereka bukannya membuat takut, malah kami berbalik melawan sehingga terjadi cekcok mulut berujung saling baku pukul antara kami dengan penumpang bus. Karena situasi semakin panas, bus langsung tancap gas dan rupanya mereka ke kantor Polisi setempat untuk melaporkan kejadian tersebut.
Berselang beberapa jam kemudian datang satu unit truk pengendalian masyarakat (mobil Dalmas). Kemudian para anggota Polisi menangkap kami yang kala itu tinggal lima orang di lokasi tongkrongan.
Lalu di bawa ke Polres dan menjalani proses hukum karena ada korban yang mengalami luka-luka. Dalam kondisi mabuk berat kami mulai diperiksa dari jam 02:00-07:00 WIT, setelah itu berlima di jebloskan ke dalam tahanan. Mirisnya saat itu sudah memasuki hari raya yang paling sakral dalam umat Kristiani yaitu Jumat Agung.
Setelah lama berproses, akhirnya kami berlima di keluarkan dari tahanan. Pasalnya, entah kenapa kala itu korban lebih memilih jalur berdamai daripada melanjutkan proses hukum.
Kedua Kali Ditangkap Jelang Paskah
Misteri di persimpangan jalan paskah masih berlanjut namun prosesnya penangkapannya berbeda. Kala itu waktu terus berlalu, belum ada yang berubah dan setelah 5 tahun baru bisa menamatkan bangku SMA. Tahun 2006 saya akhirnya memilih untuk merantau ke Jakarta. Rupanya saat tiba di Jakarta, tidak sesuai harapan. Saya akhirnya kabur lagi ke Pulau Sumatera dan Bali. Namun pada akhirnya kembali lagi ke Jakarta.
Bebagai pekerjaan pernah penulis jalani, mulai dari tukang ojek, cleaning service, tukang semir sepatu, jualan sepatu bekas, kuli panggul air mineral, kuli panggul besi, buruh pabrik, security, kenek, sopir dll.
Pada akhirnya saya jatuh sakit dan memilih kembali ke kampung halaman di Atambua. Setelah sembuh kembali lagi ke Jakarta namun karena ada persoalan lain, akhirnya kabur lagi ke Surabaya. Di sana bukan kehidupan semakin membaik, namun malah tambah tak jelas arah tujuannya.
Jangankan memikirkan masa depan, berpikir untuk bagaimana bisa makan sehari saja susahnya setengah ‘mati’. Bahkan pernah, karena tak memiliki makanan, saya dan beberapa kawan terpaksa harus makan buah mangga masak selama seminggu untuk bertahan hidup.
Suatu saat menjelang masa-masa Paskah, dan sedang pusing memikirkan bagaimana bisa makan, tiba-tiba datang seorang rekan yang baru kami kenal di Surabaya mengajak untuk ikut ibadah pemuda/pemudi Kristen.
Sontak saya dan kawan-kawan tanpa pikir panjang langsung mengiakan. Motifasinya bukan untuk beribadah mendengarkan Firman Tuhan, namun agar bisa makan. Pasalnya saat itu kami dalam kondisi susah, sebab hanya numpang hidup ke para kawan lainnya akibat lama menganggur.
Namun, sesampainya di tempat kebaktian motifasinya berubah drastis, kebaktian perdana di Kota Pahlawan itu justru awal dari Tuhan ‘menangkap’ hidup saya. Jadi bukan tertangkap oleh Polisi seperti sebelumnya.
Hal ini benar seperti tertulis dalam kitab Yeremia 1:4 yang berbunyi: “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau”
Kemudian Firman Tuhan dalam Yohanes 3:16: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
Ini adalah perdana dalam hidup dan memasuki usia 23 tahun saya menjalani Baptis selam sebagai lambang dari berakhir atau matinya cara hidup yang lama. Kemudian mulai atau bangkit dalam kehidupan yang baru bersama Yesus Kristus.
Dari sanalah, akhirnya penulis mulai tidak ingin membandingkan agama A B dan C, karena penulis memahami bahwa agama adalah bagian dari cara masing-masing manusia mencari Tuhan.
Penulis hanya fokus pada konteks dalam Kristus Tuhan, Yesus lah yang datang mencari orang berdosa untuk di selamatkan. Karena begitu besar kasih-Nya pada umat manusia sehingga ia tidak ingin manusia itu binasa ketika mati.
Karena, hakikatnya semua meyakini bahwa hanya ada dua lokasi tempat manusia berlabuh ketika mati, yaitu Surga dan Neraka.
Sebenarnya masih banyak yang ingin saya bagikan, namun di lain kesempatan akan berbagi lagi. Penulis tidak bisa mengutarakan secara rinci dari awal hingga akhir karena sangatlah panjang ceritanya.
Namun, penulisan kisah ini hanya ingin berbagi bahwa, dalam hidup ini seperti apapun buruk, hina, dan hancurnya seseorang, kalau sudah di pilih di manapun bersembunyi di kolong langit ini, Tuhan tetap akan selalu datang memanggil untuk mengikuti jalan-Nya.
Namun, respon tergantung pada diri setiap orang masing-masing. Jadi walau Tuhan Maha Segalanya, namun Ia tetap adil, memberikan kebebasan bagi setiap manusia untuk meresponi panggilan-Nya atau tidak. Selamat Hari Raya Paskah.
Penulis, CEO PT. Sejahtera Jaringan Media, Willibrodus Nafie, S.Pd, M.Pd



