Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id – Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (2/7/2026).

Penurunan lebih dari satu persen membuat harga minyak mentah menyentuh posisi terendah dalam empat bulan terakhir seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

- Advertisement -

Minyak mentah Brent ditutup melemah sebesar US$1,03 atau 1,44 persen ke level US$70,54 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$0,92 atau 1,34 persen menjadi US$67,66 per barel.

Selama sesi perdagangan, kedua kontrak minyak tersebut sempat berada di titik terendah sejak sebelum pecahnya konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026.

- Advertisement -

Sentimen pasar berubah setelah Qatar mengungkapkan adanya perkembangan positif dalam pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran terkait implementasi nota kesepahaman yang mengakhiri konflik pada Juni 2026.

Meski demikian, kedua negara disebut belum mencapai kesepakatan damai yang bersifat permanen.

Qatar juga menyampaikan bahwa perundingan lanjutan akan digelar setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dijadwalkan berakhir pada 9 Juli 2026.

“Minyak terus mengalir melalui Selat Hormuz, sementara cadangan minyak strategis juga terus dilepas. Di sisi lain, permintaan minyak dari China belum benar-benar pulih sehingga harga masih berada dalam tekanan,” ujar Schieldrop, dikutip dari Reuters.

Analis Komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, mengatakan kelancaran distribusi minyak melalui Selat Hormuz turut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.

Kondisi tersebut diperkuat oleh pelepasan cadangan minyak strategis serta belum pulihnya permintaan minyak dari China.

Ia menilai tekanan terhadap harga masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor pasokan yang stabil dan permintaan yang belum kembali ke tingkat normal, meski pelemahan harga diperkirakan tidak berlangsung dalam jangka panjang.

Data pelayaran menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker berkapasitas besar yang membawa sekitar 10 juta barel minyak dari Arab Saudi telah melintasi Selat Hormuz.

Di saat yang sama, Saudi Aramco mulai mengandalkan harga pasar spot untuk mempercepat distribusi minyak ke kawasan Asia.

“Pasar melihat situasi Iran mulai membaik. Memang masih akan ada pasang surut, tetapi arahnya menuju kondisi yang lebih baik,” katanya.

Senior Analyst Price Futures Group, Phil Flynn, menilai pelaku pasar mulai melihat risiko geopolitik di Timur Tengah berangsur mereda, meskipun fluktuasi harga masih mungkin terjadi.

Sementara itu, Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam turun ke level terendah sejak 2018 akibat meningkatnya aktivitas kilang.

Stok bensin juga tercatat mengalami penurunan pada periode yang sama.

Di tengah perkembangan tersebut, UBS memangkas proyeksi harga minyak Brent.

Bank investasi tersebut kini memperkirakan harga Brent pada kuartal III dan IV 2026 berada di kisaran US$80 per barel, sedangkan proyeksi untuk 2027 diturunkan menjadi US$75 per barel.

Berbeda dengan UBS, analis HSBC memperkirakan harga minyak masih berpotensi kembali menguat menuju US$80 per barel atau lebih tinggi setelah kelebihan pasokan jangka pendek berkurang dan pelepasan cadangan strategis oleh International Energy Agency (IEA) berakhir pada Juli 2026.

Di sisi lain, Nigeria resmi menjadi negara anggota pertama Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang bergabung sebagai anggota asosiasi IEA.

Sementara itu, militer Ukraina mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kilang minyak Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez di Nizhny Novgorod, Rusia.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

DPR Dorong Beasiswa Kedokteran Diperluas

JCCNetwork.id- Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mendorong pemerintah memperluas cakupan beasiswa bagi mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan sebagai langkah strategis untuk...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER