JCCNetwork.id- Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan kejutan besar. Dua kekuatan tradisional sepak bola Eropa, Jerman dan Belanda, harus mengakhiri perjalanan mereka secara menyakitkan setelah sama-sama kalah dalam drama adu penalti di fase gugur.
Belanda menjadi tim terbaru yang tersingkir usai dikalahkan Maroko dengan skor 2-3 pada adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit di Estadio Monterrey. Hasil itu menyusul kegagalan Jerman yang lebih dahulu disingkirkan Paraguay melalui skenario serupa.
Tersingkirnya dua negara yang selama ini selalu masuk jajaran unggulan menjadi salah satu kejutan terbesar di babak knockout Piala Dunia 2026 sekaligus memunculkan pertanyaan apakah hasil tersebut hanya kebetulan atau menjadi pertanda semakin tipisnya jarak kualitas antara tim-tim elite dan para penantangnya.
Jerman menjadi korban pertama drama adu penalti. Juara dunia empat kali itu gagal melangkah lebih jauh setelah ditahan imbang Paraguay 1-1 hingga babak tambahan sebelum akhirnya menyerah 3-4 dalam adu penalti di Gillette Stadium, Foxborough, Amerika Serikat.
Hasil tersebut sekaligus mengakhiri rekor luar biasa Der Panzer dalam adu penalti Piala Dunia.
Sebelumnya, Jerman selalu keluar sebagai pemenang dalam empat adu penalti yang mereka jalani, yakni menghadapi Prancis (1982), Meksiko (1986), Inggris (1990), dan Argentina (2006).
Mereka bahkan hanya sekali kebobolan dalam empat pertandingan tersebut serta mencatat enam kemenangan beruntun dalam adu penalti di turnamen besar sejak terakhir kali kalah dari Cekoslowakia pada final Euro 1976.
Rekor panjang itu akhirnya terhenti setelah Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah gagal menuntaskan tugas sebagai eksekutor penalti.
Padahal sepanjang pertandingan, Jerman tampil dominan. Mereka menguasai hingga 78 persen penguasaan bola pada babak pertama dan bahkan sempat mencetak gol pada babak tambahan. Namun, gol tersebut dianulir setelah tinjauan VAR menyatakan terjadi pelanggaran terhadap kiper Paraguay.
Kegagalan Jerman juga menunjukkan besarnya pengaruh faktor mental dalam adu penalti. Havertz yang sebelumnya mencetak gol penyama kedudukan justru gagal sebagai penendang pertama setelah sepakannya ditepis Orlando Gill.
Meski Manuel Neuer sempat menjaga asa dengan menggagalkan dua penalti Paraguay, peluang Jerman akhirnya pupus ketika Jonathan Tah gagal mengeksekusi tendangan pada babak sudden death.
Beberapa jam berselang, Belanda mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Oranje ditahan imbang Maroko 1-1 hingga 120 menit sebelum akhirnya menyerah 2-3 dalam adu penalti.
Berbeda dengan Jerman yang tampil menguasai permainan, Belanda justru dinilai kehilangan karakter menyerang mereka.
Sepanjang babak tambahan, skuad asuhan Ronald Koeman lebih banyak bertahan dan memilih bermain aman. Pendekatan tersebut menuai kritik dari sejumlah pengamat sepak bola internasional.
Dalam laporan The Guardian, Thierry Henry menilai Maroko bermain dengan ambisi untuk menang, sedangkan Belanda hanya berusaha menghindari kekalahan.
Kritik senada disampaikan Zlatan Ibrahimovic yang menilai strategi Koeman membuat Belanda meninggalkan identitas permainan menyerang yang selama ini menjadi ciri khas mereka.
Pendekatan yang terlalu konservatif dinilai turut memengaruhi kondisi psikologis para pemain saat pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti.
Drama adu penalti juga diwarnai sejumlah kegagalan eksekusi. Achraf Hakimi, Quinten Timber, Justin Kluivert, dan Neil El Aynaoui sama-sama gagal mencetak gol.
Justin Kluivert yang memiliki catatan penalti cukup baik di level klub pun tak mampu mengatasi tekanan pada momen penentuan.
Di bawah mistar, Bart Verbruggen sebenarnya tampil gemilang sepanjang pertandingan. Ia beberapa kali menyelamatkan Belanda, termasuk menggagalkan peluang emas Soufiane Rahimi pada babak tambahan.
Namun ketika adu penalti dimulai, perhatian beralih kepada Yassine Bounou yang sukses menggagalkan tendangan Crysencio Summerville sebelum Ismael Saibari memastikan kemenangan Maroko lewat penalti terakhir.
Jika dibandingkan, terdapat sejumlah kesamaan dari kekalahan Jerman dan Belanda. Pertama, dominasi permainan maupun reputasi besar ternyata tidak lagi menjamin kemenangan dalam pertandingan bertekanan tinggi.
Jerman mengendalikan jalannya laga, sementara Belanda sempat berada di atas angin, tetapi keduanya gagal mengunci kemenangan.
Kedua, pendekatan taktis yang terlalu berhati-hati justru dapat menjadi bumerang. Belanda kehilangan inisiatif setelah memilih bertahan ketika unggul sehingga memberi kesempatan kepada Maroko untuk bangkit dan menyamakan kedudukan. Momentum psikologis pun berbalik sebelum laga memasuki adu penalti.
Ketiga, kedua pertandingan kembali menegaskan bahwa adu penalti lebih banyak ditentukan oleh kesiapan mental dibanding sekadar kemampuan teknik.
Pengalaman dan kualitas individu tidak selalu cukup ketika tekanan Piala Dunia mencapai titik tertinggi.
Karena itu, istilah “kutukan penalti” lebih tepat dipahami sebagai perpaduan antara faktor psikologis, kesiapan teknis, strategi permainan, dan unsur keberuntungan.
Bagi Jerman, kekalahan dari Paraguay memperpanjang tren negatif mereka setelah kembali gagal melangkah jauh di Piala Dunia.
Sementara bagi Belanda, kegagalan menghadapi Maroko menambah panjang daftar kekecewaan di turnamen besar sekaligus menunjukkan bahwa adu penalti masih menjadi tantangan yang belum mampu mereka taklukkan.
Sejarah memang menunjukkan bahwa adu penalti kerap menjadi mimpi buruk bagi negara-negara unggulan.
Pada Piala Dunia 1990, Italia yang tampil sebagai tuan rumah harus mengubur ambisi menjadi juara setelah kalah adu penalti dari Argentina di semifinal. Tekanan tampil di depan publik sendiri justru menjadi beban yang sulit diatasi.
Hal serupa dialami Spanyol pada Piala Dunia 2002. La Furia Roja tersingkir di perempat final setelah kalah adu penalti dari tuan rumah Korea Selatan dalam pertandingan yang juga diwarnai kontroversi keputusan wasit.
Inggris pun memiliki sejarah panjang kegagalan melalui adu penalti. The Three Lions tersingkir dari Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 dan kembali mengalami nasib serupa saat menghadapi Portugal di perempat final Piala Dunia 2006.
Rentetan hasil tersebut membuat adu penalti identik dengan trauma sepak bola Inggris, meski dalam beberapa tahun terakhir mereka mulai memperbaiki catatan melalui pendekatan psikologi olahraga dan latihan yang lebih terstruktur.
Sementara itu, kekalahan Belanda dari Maroko pada Piala Dunia 2026 kembali memperpanjang catatan kurang menggembirakan Oranje dalam adu penalti.
Sejak keberhasilan mereka memenangi adu penalti pada final Piala Dunia 2010, Belanda kembali berkali-kali gagal ketika pertandingan harus ditentukan dari titik putih, termasuk saat menghadapi Argentina pada perempat final Piala Dunia 2022.
Meski terus melahirkan pemain-pemain berkualitas dan selalu masuk daftar unggulan, Belanda masih kesulitan melepaskan bayang-bayang kegagalan dalam adu penalti.
Kekalahan dari Maroko kembali menjadi pengingat bahwa pada level tertinggi sepak bola dunia, kekuatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kemampuan teknik dalam menentukan hasil akhir pertandingan.
Narasi ini menggunakan alur yang lebih mengalir, mengurangi pengulangan, serta menerapkan gaya bahasa berita yang lebih dinamis tanpa mengubah fakta maupun makna dari naskah asli.



