Fenomena Menstrual Masking Dinilai Berisiko

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Tren kecantikan ekstrem kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, praktik menstrual masking mengoleskan darah menstruasi ke wajah sebagai masker menjadi perbincangan luas setelah sejumlah kreator konten memamerkan aksinya di media sosial. Aksi tersebut memicu perdebatan setelah klaim manfaat regeneratif yang mereka sampaikan tidak dibarengi bukti ilmiah.

Dalam berbagai unggahan yang viral, para pelaku tren ini terlihat mengaplikasikan darah haid ke seluruh wajah selama beberapa menit sebelum membilasnya. Mereka meyakini darah menstruasi mengandung komponen biologis seperti stem cell dan sitokin yang disebut-sebut mampu mencerahkan kulit hingga memperbaiki tekstur wajah.

- Advertisement -

Namun gelombang kontroversi langsung muncul. Sejumlah pakar kesehatan kulit menegaskan bahwa tren ini tidak memiliki dasar ilmiah yang memadai dan justru dapat meningkatkan risiko infeksi. Mengutip laporan NDTV, para ahli menjelaskan bahwa darah menstruasi memang mengandung sel dan protein tertentu, tetapi keberadaan bakteri di dalamnya membuat praktik ini berbahaya apabila diaplikasikan langsung ke kulit.

Darah haid berpotensi membawa bakteri seperti Staphylococcus aureus yang dapat masuk melalui pori-pori atau luka kecil pada wajah. Infeksi akibat bakteri ini dapat memicu peradangan hingga komplikasi serius, terutama pada individu dengan kulit sensitif atau riwayat masalah kulit.

Menurut para dokter, tidak adanya standar medis membuat tren ini semakin berisiko. Tidak ada panduan mengenai jumlah darah yang digunakan, durasi pemakaian, maupun frekuensi yang aman.

- Advertisement -

Mereka juga menyoroti perbandingan keliru antara menstrual masking dan prosedur platelet-rich plasma (PRP) yang dikenal dengan sebutan vampire facial. Berbeda dari tren viral tersebut, PRP dilakukan menggunakan darah yang diambil dari pasien, diproses dengan alat khusus di lingkungan steril, serta diawasi tenaga medis profesional. Prosedur itu memiliki standar keamanan dan protokol jelas yang tidak dimiliki menstrual masking.

Sementara itu, menstrual masking dilakukan secara mandiri di rumah tanpa proses sterilisasi. Para pakar memastikan bahwa praktik tersebut berada di wilayah risiko tinggi hingga ada kajian ilmiah komprehensif yang dapat membuktikan manfaatnya.

Para ahli dermatologi mengimbau masyarakat berhati-hati dan tidak mengikuti tren kecantikan yang belum terbukti. Infeksi kulit, kata mereka, dapat meninggalkan bekas jangka panjang dan membutuhkan penanganan medis intensif.

Fenomena ini menambah daftar panjang tren kecantikan ekstrem yang bermula dari media sosial namun berpotensi membawa dampak kesehatan. Hingga kini, tidak ada lembaga medis maupun dermatologi yang merekomendasikan penggunaan darah menstruasi sebagai masker wajah.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Putusan MK Kuota 30 Persen Perempuan Butuh Komitmen Partai

JCCNetwork.id-Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mewajibkan sanksi bagi partai politik yang tidak memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan dinilai membutuhkan dukungan penuh dari partai...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER