Omzet Pedagang Bakso di Bekasi Turun 30 Persen

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id-Paguyuban Pedagang Mie dan Bakso Kabupaten Bekasi menyebut sekitar 30 persen pedagang bakso di Kabupaten Bekasi mengalami kesulitan usaha akibat kenaikan harga daging sapi impor yang dipicu penguatan dolar Amerika Serikat dan dampak konflik global terhadap pasokan pangan.

Ketua Papmiso Kabupaten Bekasi, Sandimin, mengatakan lonjakan harga daging impor mulai terjadi sejak sebelum Lebaran 2026 dan masih berlangsung hingga saat ini.

- Advertisement -

“Karena kurs dolar naik, harga (daging) juga ikut naik. Ditambah lagi ada perang yang memengaruhi pasokan,” kata Sandimin saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, harga daging sapi impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram kini meningkat menjadi sekitar Rp110 ribu per kilogram, khususnya untuk jenis daging yang umum digunakan pedagang bakso.

Sementara harga daging sapi lokal berada pada kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.

- Advertisement -

“Dulu masih di bawah Rp 100.000, sekarang sudah di atas Rp 100.000 per kilogram untuk yang impor, yang biasa dipakai pedagang sekarang sekitar Rp 110.000,” ujarnya.

Kenaikan harga bahan baku tersebut berdampak langsung terhadap penjualan pedagang bakso dan mie ayam.

Menurut Sandimin, penurunan daya beli masyarakat menyebabkan omzet pedagang turun hingga hampir 30 persen.

“Iya, sangat berdampak. Omset turun hampir 30%. Semua yang berkaitan dengan daging terdampak karena kondisi ekonomi memang lagi susah,” ucapnya.

Selain daging sapi, sejumlah bahan pendukung usaha seperti plastik pembungkus, kecap, dan saus juga mengalami kenaikan harga.

“Semua naik, plastik, bungkus, kecap, saus, semuanya terdampak. Pedagang juga akhirnya menaikkan harga sedikit demi sedikit, tapi tidak bisa langsung besar karena takut pelanggan hilang,” katanya.

Kondisi itu membuat pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual secara bertahap untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Mayoritas daging impor yang digunakan pedagang bakso di Kabupaten Bekasi berasal dari Australia, Brasil, dan India.

Ketergantungan terhadap pasokan impor dinilai membuat harga daging sangat dipengaruhi nilai tukar dolar serta situasi geopolitik internasional.

Akibat tingginya biaya operasional, sebagian pedagang mulai mengurangi aktivitas usaha.

Papmiso mencatat sekitar 30 persen anggotanya saat ini berada dalam kondisi sulit dan memilih pulang kampung sementara waktu dibanding terus berjualan dengan biaya produksi tinggi.

“Tidak benar-benar berhenti, tetapi hampir 30 persen pedagang sedang kesulitan karena harga bahan-bahan tinggi, lebih memilih untuk pulang kampung dulu,” ujarnya.

Papmiso berharap kondisi global segera membaik agar harga bahan baku kembali stabil dan pelaku usaha kecil dapat mempertahankan usahanya.

“Harapannya perang cepat selesai dan keadaan kembali damai. Kalau perang masih ada, semua pasti kena dampaknya,” ujar Sandimin.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Sugiono Pastikan Pemulangan 9 WNI dari Israel

JCCNetwork.id-Sembilan warga negara Indonesia (WNI) peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla dipastikan telah dibebaskan setelah sempat ditahan aparat Israel di wilayah Negev. Seluruh relawan kini...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER