JCCNetwork.id-Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Rabu (27/5/2026) setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 4 persen akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai akan memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah Brent turun sebesar US$1,42 atau 1,43 persen menjadi US$98,16 per barel pada pukul 09.53 WIB.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS terkoreksi US$1,66 atau 1,77 persen ke posisi US$92,23 per barel.
Penurunan harga terjadi setelah pasar merespons aksi militer terbaru Amerika Serikat terhadap Iran yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga minyak.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran investor karena dianggap dapat menghambat peluang tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara.
Pemerintah Iran menuding AS melanggar kesepakatan gencatan senjata usai melakukan serangan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak dan gas dunia.
Di sisi lain, Washington menegaskan operasi militer itu dilakukan sebagai langkah pertahanan.
Sebelumnya, kedua negara sempat menunjukkan sinyal positif terkait pembicaraan pembukaan kembali Selat Hormuz setelah gencatan senjata yang tercapai pada April lalu.
Konflik yang berlangsung selama tiga bulan itu sempat mengganggu arus perdagangan energi global.
Namun, eskalasi ketegangan militer terbaru membuat proses diplomasi kembali menghadapi hambatan dan meningkatkan ketidakpastian di pasar energi internasional.
Situasi kawasan juga diperburuk oleh meningkatnya serangan udara Israel ke Lebanon pada Selasa (26/5/2026), yang dinilai dapat menghambat upaya stabilisasi keamanan di Timur Tengah.
Meski demikian, pasar masih menaruh harapan terhadap normalisasi jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Optimisme tersebut muncul setelah sejumlah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) dilaporkan berhasil melintasi kawasan itu dalam beberapa hari terakhir.
Jika distribusi energi kembali lancar, pasokan global diperkirakan meningkat sehingga berpotensi menekan harga minyak dunia.



