Rupiah Tembus Rp17.830, Menkeu Pastikan APBN Aman

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menembus level Rp17.830 per dolar AS di tengah dinamika pasar global dan penguatan mata uang Negeri Paman Sam.

Meski kurs rupiah bergerak melemah, pemerintah memastikan kondisi tersebut belum mengganggu stabilitas fiskal nasional maupun pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan pemerintah tidak memiliki rencana melakukan perhitungan ulang terhadap APBN akibat fluktuasi nilai tukar tersebut.

- Advertisement -

Purbaya menyampaikan, pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan dan belum mencerminkan memburuknya kondisi ekonomi domestik. Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat ditopang oleh konsumsi domestik, investasi, serta stabilitas sektor keuangan nasional.

“Jadi enggak ada masalah, saya enggak harus hitung ulang APBN-nya,” kata Purbaya, ditemui di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu (27/5).

Ia menjelaskan, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal, termasuk pergerakan dolar AS di pasar global dan dinamika kebijakan ekonomi internasional. Karena itu, pemerintah menilai pelemahan kurs yang terjadi saat ini bersifat sementara dan tidak sepenuhnya menggambarkan kekuatan ekonomi Indonesia.

- Advertisement -

Purbaya bahkan menyebut kondisi pergerakan rupiah belakangan ini sebagai fenomena yang tidak sepenuhnya sejalan dengan teori ekonomi konvensional. Menurutnya, sejumlah indikator utama perekonomian Indonesia justru masih menunjukkan tren positif di tengah tekanan pasar keuangan global.

Di sisi lain, pemerintah bersama otoritas terkait disebut tengah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus memperkuat posisi mata uang domestik terhadap dolar AS.

“Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan rupiah dengan signifikan,” tandasnya, dilansir Antara.

Pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir turut menjadi perhatian pelaku pasar dan dunia usaha karena berpotensi memengaruhi biaya impor, harga bahan baku industri, hingga inflasi. Kendati demikian, pemerintah optimistis tekanan terhadap rupiah masih dapat dikendalikan melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Bank Indonesia sebelumnya juga menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas kurs dan memastikan likuiditas tetap terjaga. Selain itu, sinergi antara pemerintah dan bank sentral dinilai menjadi faktor penting dalam meredam gejolak pasar keuangan global yang berdampak terhadap rupiah.

Pengamat ekonomi menilai arah pergerakan rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi kondisi eksternal, terutama kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan tensi geopolitik global. Namun, stabilitas cadangan devisa serta kinerja ekspor Indonesia dinilai masih menjadi penopang utama ketahanan ekonomi nasional.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Harga Minyak Dunia Turun Usai Konflik Timur Tengah Memanas

JCCNetwork.id-Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Rabu (27/5/2026) setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 4 persen akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pelaku pasar...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER