JCCNetwork.id- Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengingatkan masyarakat Bali agar meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Masyarakat diminta menggunakan perlindungan diri seperti topi dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.
Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III, Wayan Musteana, mengatakan cuaca panas yang terjadi di Bali dapat berdampak pada kesehatan jika masyarakat tidak menjaga asupan cairan tubuh.
“Kami imbau masyarakat untuk tetap terhidrasi atau minum dalam jumlah cukup,” kata Ketua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BBMKG Wilayah III Wayan Musteana di Denpasar, Bali, Jumat.
BBMKG juga mengingatkan agar masyarakat terus memantau perkembangan informasi cuaca secara berkala. Informasi terkini dapat diakses melalui laman bbmkg3.bmkg.go.id, maritim.bmkg.go.id, media sosial resmi @bmkgbali, maupun aplikasi Info BMKG.
Menurut Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, suhu panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Bali, dengan suhu maksimum mencapai 37,6 derajat Celsius, dipicu oleh kombinasi gerak semu matahari dan pengaruh monsun Australia.
Selain itu, penguatan angin timuran atau Monsun Australia membawa massa udara kering dan hangat, sehingga pembentukan awan menjadi minim. Akibatnya, sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara maksimal dan membuat suhu udara meningkat tajam.
BMKG memprakirakan kondisi panas ekstrem ini masih akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025. Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba, seperti hujan lokal disertai angin kencang.
Sementara itu, BBMKG Denpasar memperkirakan puncak musim hujan di Bali akan terjadi pada Januari–Februari 2026. Dari 20 zona musim di wilayah Bali, sekitar 45 persen wilayah diperkirakan akan mengalami puncak musim hujan pada Januari 2026, sedangkan 55 persen sisanya akan memasuki puncak hujan pada Februari 2026.
Dengan kondisi cuaca ekstrem yang masih berlanjut, masyarakat diimbau untuk menyesuaikan aktivitas harian, menjaga kesehatan, dan memperhatikan prakiraan cuaca harian dari BMKG guna menghindari risiko kesehatan akibat paparan panas berlebih.














