DPRD Jatim Soroti Inflasi Daerah

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Indra Widya Agustina, mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Bulog dalam upaya pengendalian inflasi di daerah.

Ia menilai koordinasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengidentifikasi penyebab dan solusi atas kenaikan harga-harga.

- Advertisement -

“Koordinasi dan kolaborasi ini dibutuhkan terutama untuk menemukan penyebab kenaikan inflasi sekaligus langkah pengendaliannya,”jelas politisi Demokrat ini, Rabu 8 Oktober 2025.

Menurut politisi Partai Demokrat asal Pacitan itu, inflasi dipengaruhi berbagai faktor seperti keterbatasan pasokan bahan pangan, kenaikan harga yang diatur pemerintah seperti tarif air minum, serta kendala distribusi akibat cuaca ekstrem dan hambatan logistik.

“Dengan duduk bersama dengan BPS,pemda kemudian Bulog serta pihak perbankan di masing-masing daerah termasuk melibatkan pekerja maupun pengusaha untuk mencari penyebab inflasi dan tentunya diselesaikan bagaimana ini bisa diatasi,”sambungnya.

- Advertisement -

Ia menyarankan agar pembahasan soal inflasi melibatkan lebih banyak pihak, termasuk kalangan perbankan, pekerja, dan pelaku usaha, guna merumuskan langkah konkret yang bisa diambil secara terpadu.

“Sektor usaha mungkin diuntungkan jika pendapatan naik melebihi inflasi, tetapi secara umum inflasi tinggi bisa menyebabkan masalah ekonomi dan sosial seperti kesenjangan pendapatan yang melebar,”kata dia.

Indra juga mengingatkan bahwa inflasi berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Ketika harga naik sementara pendapatan tetap, masyarakat terpaksa menyesuaikan pengeluaran, bahkan mengurangi tabungan dan investasi.

“Inflasi yang tinggi menciptakan ketidakpastian yang menyulitkan individu dan perusahaan untuk merencanakan keuangan jangka panjang dan membuat keputusan investasi,”sambungnya.

Ia menambahkan, meskipun inflasi bisa memberikan keuntungan bagi sebagian pelaku usaha apabila pendapatan mereka naik lebih tinggi dari kenaikan harga, namun secara umum inflasi yang tinggi menimbulkan berbagai risiko ekonomi dan sosial, seperti melebaranya kesenjangan pendapatan.

Selain itu, lanjut Indra, masyarakat cenderung kehilangan daya untuk menyimpan uang di bank karena suku bunga simpanan tak mampu mengimbangi laju inflasi.

“Investor mungkin beralih ke investasi spekulatif seperti emas atau tanah, yang nilainya cenderung stabil atau naik saat terjadi inflasi,”tutupnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Harga Pangan Melonjak, Cabai Rawit Tembus Rp66 Ribu per Kg

JCCNetwork.id- Harga sejumlah komoditas pangan strategis di tingkat eceran nasional kembali mengalami lonjakan pada Kamis (23/4). Kenaikan ini tercermin dari data terbaru Pusat Informasi...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER