JCCNetwork.id- Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan tren kenaikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan pertama tahun 2024.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, menyampaikan bahwa pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I-2024 mencapai 1,89 persen year on year (yoy). Ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 1,74 persen (yoy).
“Hal ini tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I-2024,” kata Erwin, dikutip Kamis (16/4/2024).
Erwin mengatakan peningkatan IHPR tersebut terutama didorong oleh kenaikan harga properti tipe kecil yang meningkat 2,41 persen (yoy), melanjutkan kenaikan harga pada triwulan IV-2023 yang sebesar 2,15 persen (yoy).
Peningkatan IHPR ini didorong terutama oleh kenaikan harga properti tipe kecil, yang naik sebesar 2,41 persen (yoy) pada triwulan tersebut.
Meskipun demikian, harga rumah tipe menengah dan besar juga masih mengalami kenaikan, meskipun tidak sebesar triwulan sebelumnya. Harga rumah tipe tersebut naik masing-masing sebesar 1,60 persen (yoy) dan 1,53 persen (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya.
Secara triwulan, harga properti residensial primer pada triwulan I-2024 juga terus meningkat sebesar 0,57 persen (qtq), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,25 persen qtq.
Kenaikan harga properti residensial secara triwulan ini didorong oleh kenaikan harga seluruh tipe rumah, terutama tipe kecil.
Sementara itu, penjualan properti residensial mengalami peningkatan signifikan sebesar 31,16 persen (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pembukaan proyek baru yang berhasil menarik minat konsumen.
Namun, masih ada sejumlah faktor yang menghambat pengembangan dan penjualan properti residensial, seperti kenaikan harga bangunan, masalah perizinan, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan persyaratan uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR.
Dari survei ini juga diketahui bahwa mayoritas pembiayaan pembangunan properti residensial berasal dari dana internal pengembang, sedangkan pembelian rumah primer mayoritas dilakukan melalui skema pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah.



