Harga Minyak Dunia Melonjak Usai Trump Tolak Respons Iran

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan awal pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tanggapan Iran atas proposal Washington terkait upaya penghentian konflik di kawasan Timur Tengah. Penolakan tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi global dan memperbesar risiko terganggunya jalur distribusi minyak internasional.

Kenaikan harga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang melibatkan AS dan Iran. Pasar menilai peluang tercapainya kesepakatan damai semakin kecil setelah pernyataan Trump yang menyebut respons Iran tidak dapat diterima. Kondisi itu memperburuk sentimen pelaku pasar yang sebelumnya berharap adanya kemajuan diplomatik untuk meredakan perang di kawasan.

- Advertisement -

Berdasarkan laporan Bloomberg pada Senin (11/5/2026), harga minyak mentah Brent melonjak hingga 4,2 persen dan menyentuh level USD105,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan hingga menembus USD99 per barel.

Lonjakan harga minyak dipicu kekhawatiran bahwa ketegangan politik dan militer di Timur Tengah akan terus menghambat distribusi energi dunia, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak global. Hingga kini, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih terganggu sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.

Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyampaikan ketidakpuasannya terhadap respons yang diberikan pihak Iran. Ia menilai proposal yang diajukan Washington belum mendapat tanggapan sesuai harapan pemerintah AS.

- Advertisement -

“Saya sudah membaca respons dari yang bisa dianggap sebagai perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya,” kata Trump di Truth Social.

Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama pelaku pasar global karena jalur itu merupakan salah satu titik vital distribusi minyak mentah, gas alam, dan bahan bakar dunia. Gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memicu krisis pasokan energi dan memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.

Kepala Strategi Komoditas ING Group NV, Warren Patterson, mengatakan optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran mulai memudar. Menurut dia, kondisi itu langsung mendorong kenaikan harga minyak di pasar internasional.

“Optimisme atas kesepakatan yang akan segera terjadi antara AS dan Iran telah memudar, mendorong harga minyak mentah lebih tinggi,” kata Kepala Strategi Komoditas ING Group NV Warren Patterson.

Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik diperkirakan masih akan meningkat dalam waktu dekat. Jika ketegangan terus memburuk, harga minyak dunia dinilai masih memiliki ruang untuk mengalami kenaikan lebih lanjut.

“Kekhawatiran kemungkinan akan meningkat kembali terkait potensi eskalasi, yang membuka peluang kenaikan harga lebih lanjut,” katanya.

Analis pasar energi juga menilai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah akan menjadi faktor utama yang memengaruhi perdagangan komoditas global dalam beberapa pekan mendatang. Selain memukul sektor energi, kondisi itu berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia akibat meningkatnya biaya logistik dan distribusi internasional.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Isu Viral Siswa Dikeluarkan Dibantah, Ini Penjelasan BGN

JCCNetwork.id- Isu yang menyebut seorang siswa di SDN 01 Banjaranyar, Kabupaten Pemalang, dikeluarkan dari sekolah setelah orang tuanya mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG)...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER