JCCNetwork.id — Iran dilaporkan mulai membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dengan mengizinkan kapal tanker minyak Agios Fanourios I melintas melalui jalur yang telah ditentukan.
Kapal tersebut membawa minyak mentah asal Irak menuju Pelabuhan Nghi Son, Vietnam.
Media Iran, Tasnim, melaporkan kapal tanker itu sebelumnya sempat tertahan akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk dalam beberapa pekan terakhir.
Keputusan Teheran dinilai menjadi perkembangan penting di tengah situasi keamanan yang masih belum stabil di jalur perdagangan energi utama dunia tersebut.
Selat Hormuz selama ini menjadi rute vital distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar serta menimbulkan korban sipil.
Upaya diplomasi sempat dilakukan melalui gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April 2026 dan dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad.
Namun, negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan permanen antara pihak-pihak terkait.
Di tengah terganggunya arus distribusi energi global, harga bahan bakar dunia mengalami kenaikan signifikan akibat terhambatnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya juga meluncurkan operasi militer bertajuk Project Freedom pada 3 Mei 2026 untuk mengawal kapal-kapal dagang yang tertahan di kawasan tersebut.
Namun, operasi itu kemudian dihentikan sementara dua hari setelah dimulai guna memberi ruang bagi proses diplomasi.
Pengamat menilai keputusan Iran mengizinkan kapal tanker melintas dapat menjadi indikasi awal meredanya ketegangan di Selat Hormuz.
Meski demikian, situasi kawasan dinilai masih rawan karena negosiasi damai belum mencapai titik temu.



