Pengamat: Mundurnya Mahfud Bentuk Kritik Non Verbal bagi Presiden

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Mundurnya Mahfud MD dari jabatan Menteri Kordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, patut dipuji. Sebagai sikap menjunjung etika politik, demi netralitas kepentingan selama Pilpres.

Hal itu juga kritik tajam bagi Presiden Jokowi. Sepatutnya juga mundur ketika berhasrat ikut kampanye. Demi menjaga sehatnya demokrasi.

- Advertisement -

“Mahfud memang terlambat mundur. Namun tetap harus dipuji langkah beraninya ini,” ujar peneliti kebijakan publik IDP-LP, Riko Noviantoro.

Dari sisi kebijakan, Riko berharap dinamika politik yang semakin tajam tidak ganggu jalannya pemerintahan. Caranya Presiden segera mengganti Menkopolhukam secepatnya, agar rid pemerintahan tetap berjalan.

Tentu saja, lanjut Riko sikap Mahfud bisa jadi teladan bagi pejabat atau menteri lain yang sedang berkontestasi Capres atau Cawapres. Sebagai wujud menjaga demokrasi berjalan sehat.

- Advertisement -

“Tidak sulit bagi Presiden ganti menteri. Karena itu hak prerogatif Presiden,” ujarnya.

Hanya saja, Riko mengkhawatirkan jika mundurnya mahfud diikuti menteri lain yang berkontestasi. Karena mundurnya Mahfud bukan sebatas pemilu, memiliki pesan politik yang lebih menusuk.

“Mahfud mundur itu dengn kata lain kabinet Jokowi sudah bermaslaah berat,” pungkasnya.

Dengan kata lain, sambung Riko ada ketidakpercayaan intenar terhadap sosok Jokowi. Hal itu akan merembes keluar dan mendorong ketidak percayaan secara ekstrem dari masyarakat.

“Kita berharap dinamika politik ini bisa tetap berada pada relnya. Kepentingan bangsa dan negara harus lebih tinggi” pungkasnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Harga Emas Tertahan di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga

JCCNetwork.id-Harga emas dunia masih bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan Selasa (21/4/2026), seiring pelaku pasar yang memilih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga bank...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER