JCCNetwork.id- Mata uang rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan pagi ini, Senin (9/10/2023). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan atau terdepresiasi, menyusul gejolak dalam pasar mata uang global.
Menurut data terbaru dari Bloomberg, pada pukul 09.26 WIB di pasar spot exchange, rupiah diperdagangkan di level Rp 15.652 per dolar AS. Ini menandai penurunan sebesar 40 poin atau 0,26% dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah situasi yang tidak menentu di pasar mata uang global. Benua Kuning, yang meliputi ekonomi Tiongkok, menghadapi penurunan yang signifikan. Sebaliknya, yen Jepang menguat 0,13% mencapai 149,1 yen per dolar AS, sedangkan dolar Hong Kong juga menguat 0,02% mencapai 7,8 per dolar AS.
Sementara itu, mata uang beberapa negara Asia lainnya juga mengalami perubahan. Won Korea menguat 0,15% menjadi 1.348 won per dolar AS, rupee India menguat 0,01% menjadi 83,2 rupee per dolar AS, dan yuan Tiongkok menguat 0,04% menjadi 7,2 yuan per dolar AS.
Namun, rupiah tidak sendirian dalam melemahnya mata uang di kawasan ini. Dolar Singapura melemah 0,07% menjadi 1,36 per dolar AS, peso Filipina turun 0,4% menjadi 56,8 peso per dolar AS, ringgit Malaysia juga melemah 0,18% menjadi 4,7 ringgit per dolar AS, dan baht Thailand turun 0,37% menjadi 37,1 baht per dolar AS.
Di sisi lain para analis mencatat bahwa ketidakpastian global terkait dengan kebijakan moneter, perang perdagangan, dan situasi geopolitik tengah mempengaruhi pasar mata uang. Ini memicu investor untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, sementara bank sentral di berbagai negara terus memantau situasi ini.
Bagi pelaku pasar dan masyarakat umum, perhatian terhadap pergerakan mata uang menjadi sangat penting dalam mengantisipasi dampaknya pada perekonomian nasional. Perdagangan mata uang akan tetap menjadi salah satu aspek yang menarik perhatian kita dalam beberapa waktu ke depan.
























