JCCNetwork.id- Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus dilakukan melalui berbagai langkah, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mendatangkan hujan buatan. Dalam operasi tersebut, sebanyak 42 ton garam disebarkan ke atmosfer Sumatera Selatan pada Kamis, 29 Oktober 2026, guna meningkatkan potensi turunnya hujan di wilayah terdampak kebakaran.
Penyemaian bahan semai tersebut melibatkan pesawat angkut milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah ini ditempuh sebagai bagian dari upaya mempercepat pemadaman titik-titik api yang masih membakar kawasan hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama Feri Yunaldi mengatakan, operasi penyemaian garam menggunakan tiga pesawat, yakni satu unit pesawat C-130 Hercules milik TNI AU dan dua pesawat yang dioperasikan BNPB.
Pesawat Hercules tersebut berasal dari Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Seluruh armada dikerahkan untuk mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dengan menyebarkan bahan semai ke wilayah yang dinilai membutuhkan tambahan curah hujan.
“Proses penyemaian dilakukan menggunakan pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, serta dua pesawat BNPB,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama Feri Yunaldi dikutip dari Antara, Jumat, 30 Oktober 2026, dikutip.
Pelaksanaan operasi diawali dengan keberangkatan pesawat dari Pangkalan TNI AU Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Setelah lepas landas, armada kemudian diarahkan menuju kawasan yang menjadi sasaran operasi, terutama wilayah yang terdapat aktivitas kebakaran hutan dan lahan.
Ketika mencapai titik koordinat yang telah ditentukan, petugas mengoperasikan perangkat khusus untuk menaburkan garam ke atmosfer. Bahan semai tersebut digunakan dalam proses modifikasi cuaca dengan memanfaatkan kondisi awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Melalui proses tersebut, penyemaian diharapkan dapat membantu terbentuknya hujan buatan sehingga curah hujan di wilayah sasaran meningkat. Turunnya hujan diharapkan mampu membasahi kawasan yang terbakar, mengurangi kondisi kering, sekaligus membantu petugas di lapangan memadamkan api.
Feri menjelaskan, operasi modifikasi cuaca bukan kali pertama dilaksanakan oleh TNI AU di wilayah Sumatera Selatan. Kegiatan serupa telah berlangsung selama beberapa hari terakhir sebagai bagian dari penanganan karhutla yang masih membutuhkan perhatian serius.
Menurut dia, pelaksanaan operasi tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Hujan dilaporkan telah mengguyur Kota Palembang dan sejumlah daerah lainnya di Sumatera Selatan dalam beberapa hari terakhir.
“Dalam beberapa hari terakhir, hujan telah turun di Kota Palembang dan sejumlah daerah lainnya di Sumsel,” ungkap Feri.
Turunnya hujan di sejumlah kawasan tersebut menjadi perkembangan yang diharapkan dapat mendukung penanganan karhutla. Meski demikian, upaya pemadaman tetap perlu dilanjutkan untuk memastikan kebakaran tidak kembali meluas dan seluruh titik api dapat ditangani.
TNI AU memastikan operasi modifikasi cuaca akan terus dilaksanakan sesuai kebutuhan di lapangan. Pengerahan pesawat dan penyemaian bahan semai akan menjadi bagian dari dukungan udara untuk membantu mempercepat penanggulangan kebakaran.
Feri menegaskan, keberlanjutan operasi tersebut ditujukan agar seluruh titik api yang masih membakar kawasan hutan dan lahan di Sumatera Selatan dapat segera dipadamkan.
Melalui sinergi antara TNI AU dan BNPB, pemerintah berharap tambahan curah hujan dapat membantu mengatasi kondisi lahan yang kering serta mempercepat proses pemadaman. Operasi ini sekaligus menjadi salah satu langkah penanganan karhutla melalui pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca, di samping upaya pemadaman langsung yang dilakukan oleh petugas di lokasi kebakaran.























