JCCNetwork.id- Badan Gizi Nasional (BGN) Republik Indonesia melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan keracunan yang dialami sejumlah pelajar SMP Negeri 4 Banda Aceh setelah mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagai langkah awal penanganan, BGN memutuskan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut. Penghentian dilakukan untuk memberikan ruang bagi proses pemeriksaan dan penelusuran penyebab insiden.
Koordinator BGN Wilayah Kota Banda Aceh, Muhammad Fahry, menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang menimpa para pelajar dan seorang guru tersebut.
Ia menjelaskan, keputusan penghentian sementara SPPG merupakan bagian dari penerapan prosedur penanganan kejadian menonjol sebagaimana diatur dalam standar operasional prosedur (SOP) Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan BGN RI.
“Sebagai tindak lanjut, sesuai standar operasional prosedur dari Kedeputian Pemantauan dam Pengawasan BGN RI, SPPG yang menyebabkan kejadian menonjol diberhentikan sementara untuk proses investigasi menyeluruh,” kata Muhammad Fahry.
Peristiwa tersebut sebelumnya terjadi pada Kamis (29/10), ketika sejumlah siswa SMP Negeri 4 Banda Aceh dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang disediakan melalui program MBG.
Para pelajar yang mengalami keluhan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Berdasarkan perkembangan penanganan hingga Kamis (29/10) pukul 20.00 WIB, terdapat enam orang yang menjalani pemantauan kesehatan. Mereka terdiri atas lima pelajar perempuan dan seorang guru.
Fahry memastikan seluruh pasien tersebut berada dalam kondisi baik. Meski demikian, observasi medis tetap dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka sekaligus mengantisipasi kemungkinan munculnya gejala lanjutan.
Dalam penjelasannya, Fahry mengungkapkan bahwa makanan MBG yang dikonsumsi para siswa pada saat kejadian terdiri atas nasi, ikan tuna tumis Aceh, tempe orek, tumis labu siam, serta pisang.
Untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan tersebut, BGN telah mengambil langkah pemeriksaan terhadap makanan yang disajikan. Sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian itu telah diserahkan kepada Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menjalani pengujian laboratorium.
Hasil pemeriksaan BPOM nantinya akan menjadi salah satu dasar dalam mengungkap kemungkinan penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa dan guru tersebut.
Menurut Fahry, proses pengujian laboratorium membutuhkan waktu hingga pekan depan. Karena itu, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan resmi sebelum dapat menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab kejadian tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh dampak yang timbul akibat insiden tersebut telah ditangani oleh BGN bersama Satuan Tugas MBG Kota Banda Aceh.
“Seluruh dampak akibat kejadian menonjol tersebut telah ditangani BGN dan Satuan Tugas MBG Kota Banda Aceh. Waktu pengujian laboratorium disebutkan BPOM hingga pekan depan,” katanya.
Selain memastikan penanganan terhadap para korban, BGN menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dalam aspek pengawasan dan penerapan standar operasional prosedur.
Langkah perbaikan tersebut dinilai penting untuk memperkuat pengawasan terhadap proses penyediaan makanan, sehingga potensi risiko serupa dapat diminimalkan dalam pelaksanaan program di kemudian hari.
Fahry menambahkan, penjelasan lebih lanjut mengenai perkembangan penanganan kasus tersebut akan disampaikan oleh Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan BGN RI di Jakarta.
“Mengacu pada alur operasional penanganan krisis, penjelasan lebih lanjut disampaikan Kedeputian Pemantauan dam Pengawasan BGN RI di Jakarta,” kata Muhammad Fahry.
Pemeriksaan terhadap sampel makanan serta investigasi terhadap SPPG terkait kini menjadi bagian penting dalam memastikan penyebab kejadian sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program MBG di Banda Aceh.
























