JCCNetwork.id-Pemerintah Provinsi Aceh mempercepat rehabilitasi lahan pertanian yang terdampak banjir bandang pada akhir November 2025.
Dari sekitar 57.000 hektare lahan yang terdampak bencana, sebanyak 40.000 hektare mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Azanuddin Kurnia mengatakan proses pemulihan lahan tersebut terus berjalan dengan melibatkan pemerintah kabupaten/kota serta Kementerian Pertanian.
“Sekitar 40.000 hektare lahan yang mengalami rusak ringan hingga sedang kini tengah dalam proses pemulihan,” kata Azanuddin kepada wartawan seusai menghadiri panen raya padi di Gampong (Desa) Padang Mancang, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, Selasa (22/9/2026).
Hingga pertengahan September 2026, progres pemulihan telah mencapai 56 persen.
Pemerintah memilih pola pengerjaan bertahap dengan memprioritaskan lahan yang secara fisik sudah memungkinkan untuk kembali digarap.
Dengan skema tersebut, lahan yang telah siap tidak perlu menunggu seluruh kawasan pulih.
Petani dapat langsung mengolah dan menanam kembali sehingga siklus produksi pertanian segera berjalan.
Panen padi di lahan sekitar 82 hektare di Gampong Padang Mancang menjadi salah satu hasil dari proses pemulihan tersebut.
Pemerintah menilai kegiatan panen itu menunjukkan sebagian lahan terdampak telah kembali produktif.
Azanuddin menargetkan pemulihan lahan dengan kategori rusak ringan hingga sedang dapat diselesaikan sebelum akhir 2026.
Sementara itu, sekitar 17.000 hektare yang mengalami kerusakan berat masih membutuhkan penanganan lebih lanjut bersama Kementerian Pertanian.
“Kita menggunakan pola percepatan. Jadi mana yang sudah siap fisik, langsung olah lahan dan tanam. Kita harapkan pada Desember nanti, lahan yang dipanen ini sudah bisa dihitung oleh BPS untuk menambah angka produksi kita,” ujar Azanuddin.
Pemerintah berharap percepatan rehabilitasi tersebut dapat mengembalikan produktivitas sawah terdampak sekaligus menopang produksi padi Aceh pada akhir tahun.
























