JCCNetwork.id- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Selasa pagi, 3 November 2026. Kemunculan asap tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat setelah kondisi udara sebelumnya sempat membaik akibat hujan yang mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari.
Kabut asap yang kembali terlihat pada pagi hari itu menjadi indikasi bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kotawaringin Timur belum sepenuhnya teratasi. Padahal, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir sempat mengurangi kepulan asap sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan perdagangan, mulai kembali berjalan normal.
Dampak kabut asap sebelumnya turut dirasakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sampit. Salah seorang pedagang di kawasan Taman Kota Sampit, Taslim, mengungkapkan bahwa kondisi udara yang dipenuhi asap membuat jumlah pembeli mengalami penurunan.
Menurutnya, ketika kabut asap berada dalam kondisi pekat, masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah. Situasi tersebut secara langsung berpengaruh terhadap aktivitas jual beli, karena jumlah pengunjung yang datang ke kawasan tempatnya berdagang menjadi lebih sedikit.
Taslim mengatakan, kondisi usahanya mulai menunjukkan perkembangan positif setelah hujan turun selama beberapa hari terakhir. Udara yang sebelumnya dipenuhi asap berangsur membaik, sehingga masyarakat kembali beraktivitas di luar rumah dan jumlah pembeli mulai meningkat.
“Saat kabut asap pekat, dagangan menjadi sepi. Namun, setelah kemarin turun hujan dan cuaca cerah, dagangan mulai ramai pembeli. Kami bersyukur karena beberapa hari ini hujan turun,” ujar Taslim di Sampit.
Meski demikian, perbaikan kondisi tersebut ternyata belum berlangsung stabil. Kemunculan kembali asap pada Selasa pagi membuat para pedagang khawatir kabut asap akan kembali semakin tebal dan berdampak terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.
Taslim berharap hujan kembali mengguyur Sampit dan wilayah sekitarnya agar asap yang mulai terlihat dapat segera menghilang. Ia juga berharap kebakaran hutan dan lahan tidak kembali terjadi sehingga masyarakat tidak harus menghadapi persoalan kabut asap yang berulang.
“Kondisi hari ini asap kembali terlihat. Semoga hujan kembali turun sehingga asap bisa hilang dan karhutla tidak ada lagi,” harap dia.
Kekhawatiran masyarakat tersebut semakin meningkat setelah kualitas udara di Sampit tercatat berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data aplikasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup, konsentrasi pencemaran udara untuk parameter PM10 di wilayah tersebut mencapai angka 839 pada Selasa pukul 06.00 WIB.
Angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya, yang menunjukkan tingginya tingkat pencemaran udara dan potensi dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan partikel pencemar di udara dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama apabila masyarakat terus melakukan aktivitas di luar ruangan.
Kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak antara lain anak-anak, lanjut usia (lansia), serta warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Paparan udara tercemar dalam kondisi tersebut berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.
Tingginya angka PM10 juga memperlihatkan bahwa kualitas udara di Sampit masih membutuhkan perhatian serius. Kemunculan asap setelah hujan turun mengindikasikan kemungkinan masih terdapat titik kebakaran atau sisa material yang belum sepenuhnya padam di kawasan terdampak karhutla.
Selain menjadi persoalan kesehatan dan lingkungan, kabut asap juga berpotensi menghambat kegiatan sosial serta perekonomian masyarakat. Para pedagang kecil menjadi salah satu kelompok yang merasakan langsung dampaknya karena aktivitas usaha mereka sangat bergantung pada mobilitas dan kunjungan pembeli.
Masyarakat berharap kondisi udara di Sampit segera kembali normal agar kegiatan perdagangan, pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas sehari-hari dapat berlangsung tanpa terganggu asap.
Dengan kualitas udara yang tercatat mencapai angka 839 untuk PM10, penanganan karhutla dan pemantauan kondisi udara di wilayah Kotawaringin Timur menjadi hal penting. Masyarakat juga berharap hujan kembali turun dan kebakaran yang masih berpotensi menimbulkan asap dapat segera ditangani, sehingga ancaman kabut asap tidak kembali meluas di Kota Sampit.























