JCCNetwork.id- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, meningkatkan kewaspadaan terhadap kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang terjadi selama periode musim kemarau.
Peningkatan tersebut terlihat dari pemantauan kasus mingguan yang dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kasus ISPA di wilayah Tangsel menunjukkan pola naik-turun, tetapi secara umum berada pada level yang cukup tinggi.
Berdasarkan catatan Dinkes Tangsel, pada pekan ke-27 tahun 2026 terdapat 3.028 kasus ISPA. Angka tersebut kemudian mengalami peningkatan cukup tajam pada pekan berikutnya menjadi 4.316 kasus.
Jumlah kasus sempat mengalami penurunan pada pekan ke-29 dengan 3.832 kasus. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Memasuki pekan ke-30, kasus ISPA kembali meningkat dan mencapai 4.591 kasus dalam satu pekan.
Jika dihitung secara kumulatif hingga pekan ke-30 tahun 2026, jumlah penderita ISPA yang tercatat di Tangerang Selatan telah mencapai 124.688 kasus.
Kepala Dinkes Tangsel, Alin Hendalin Mahdaniar, mengatakan perkembangan kasus mingguan tersebut menjadi perhatian pihaknya karena menunjukkan adanya peningkatan yang perlu terus dipantau.
“Kasus mingguan itu berdasarkan pantauan melalui SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons) ISPA ada kenaikan,” ujar Kepala Dinkes Tangsel, Alin Hendalin Mahdaniar, Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurut Alin, kondisi cuaca panas dan kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Paparan suhu tinggi dalam waktu lama, khususnya apabila tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Selain memperburuk kondisi tubuh ketika seseorang mengalami dehidrasi, paparan panas berlebihan juga dapat memicu kelelahan akibat panas atau heat exhaustion. Dalam kondisi yang lebih berat, seseorang dapat mengalami heat stroke yang membutuhkan penanganan medis segera.
Dinkes Tangsel mengingatkan masyarakat agar mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan akibat paparan suhu tinggi. Beberapa gejala yang perlu mendapat perhatian antara lain munculnya keringat secara berlebihan, kulit terasa panas dan kering, jantung berdebar atau denyut nadi meningkat, serta kondisi kulit yang tampak pucat.
Gejala lainnya dapat berupa kram pada bagian kaki maupun perut. Apabila kondisi tersebut semakin berat atau tidak membaik setelah mendapatkan pertolongan awal, masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
“Sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, antara lain keringat berlebih, kulit terasa panas dan kering, jantung berdebar atau denyut nadi lebih cepat, kulit pucat, kram pada kaki maupun perut, dan lainnya,” kata Alin.
Tidak hanya ISPA, Dinkes Tangsel juga memperluas pengawasan terhadap sejumlah penyakit yang berpotensi mengalami peningkatan selama kondisi cuaca panas dan musim kemarau.
Pemantauan dilakukan melalui SKDR terhadap penyakit seperti diare akut dan demam berdarah dengue (DBD). Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi lebih cepat apabila terjadi perubahan pola penyakit di tengah masyarakat.
“Kami terus memperkuat kewaspadaan melalui SKDR untuk memantau potensi peningkatan penyakit akibat cuaca panas dan musim kemarau, seperti diare akut, dan DBD,” jelas Alin.
Peningkatan pengawasan tersebut dinilai penting karena perubahan kondisi lingkungan selama musim kemarau dapat memengaruhi pola munculnya berbagai penyakit. Karena itu, masyarakat juga diminta tidak hanya bergantung pada penanganan ketika sudah sakit, tetapi mulai memperkuat langkah pencegahan dari lingkungan rumah dan aktivitas sehari-hari.
Dinkes mengimbau warga untuk menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas, termasuk memastikan kebutuhan cairan tetap terpenuhi dan mengurangi paparan langsung terhadap suhu tinggi dalam waktu lama.
Masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan juga diminta memperhatikan kondisi tubuh. Jika mulai merasakan keluhan yang mengarah pada gangguan akibat panas, aktivitas sebaiknya dihentikan sementara dan kondisi tubuh segera dipulihkan.
Kewaspadaan juga diperlukan bagi warga yang mengalami gejala penyakit dan tidak kunjung membaik. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan sekaligus mendapatkan penanganan yang sesuai.
Dengan jumlah kumulatif kasus ISPA yang telah mencapai 124.688 hingga pekan ke-30, Dinkes Tangsel memastikan pemantauan terhadap perkembangan penyakit akan terus dilakukan. Data SKDR akan menjadi salah satu instrumen untuk melihat perubahan tren kasus sekaligus menentukan langkah respons apabila terjadi peningkatan yang lebih signifikan.
Pemerintah daerah pun mengajak masyarakat berperan aktif dalam menjaga kesehatan selama musim kemarau. Selain menerapkan pola hidup bersih dan sehat, warga diharapkan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala yang berat atau berkepanjangan.






















