JCCNetwork.id – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Ketua Umum Santri Jalanan Indonesia 08 (Satria 08) Budiyanto Hadinegoro mengingatkan seluruh kader yang maju sebagai calon Ketua Umum PBNU untuk menjaga sikap santun serta menjunjung tinggi nilai-nilai etika selama proses pemilihan berlangsung.
Ia menilai, dinamika menuju pemilihan pimpinan PBNU harus berjalan secara bermartabat dan tetap menjaga persatuan di kalangan nahdliyin. Menurutnya, sosok Ketua Umum PBNU maupun Rais Aam yang terpilih nantinya harus mampu menjadi perekat antarwarga nahdliyin dan memperkuat hubungan dengan sesama organisasi Islam.
“Siapapun Ketua Umum dan Rais Aam yang terpilih harus menjadi perekat antarwarga nahdliyin dan sesama ormas Islam, serta mendukung program pemerintah Prabowo-Gibran,” kata Budiyanto, Rabu (13/5/2026).
Budiyanto juga menegaskan bahwa calon pemimpin yang diharapkan para muktamirin adalah figur yang memenuhi syarat pencalonan serta tidak memiliki persoalan yang dapat mencederai proses muktamar.
Menurutnya, seluruh tahapan menuju pemilihan Ketua Umum PBNU harus mampu menjaga kepercayaan para peserta muktamar terhadap mekanisme organisasi yang berjalan. Ia berharap proses pemilihan berlangsung secara baik, terbuka, dan menghasilkan kepemimpinan yang diterima luas oleh warga NU.
“Yang dikehendaki para muktamirin tentu figur yang memenuhi syarat pencalonan dan tidak cacat dari sisi ketentuan organisasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budiyanto berharap Muktamar ke-35 NU dapat melahirkan kepemimpinan baru yang mampu menjaga soliditas organisasi, sebagaimana proses terpilihnya KH Abdurrahman Wahid melalui mekanisme muktamar yang dikenang luas oleh warga nahdliyin.
“Tradisi musyawarah dan penghormatan terhadap nilai-nilai harus tetap menjadi fondasi utama dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU ke depan,” tandasnya.
Selain itu, Budiyanto juga berharap seluruh jajaran struktural NU dapat memberikan teladan yang baik kepada warga nahdliyin dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU dan Rais Aam. Menurutnya, proses demokrasi di tubuh NU harus menjadi contoh kedewasaan organisasi agar mampu membangun kebanggaan seluruh warga NU terhadap hasil muktamar.
“Kita sebagai warga kultural nahdliyin berharap semua struktural dapat memberikan contoh yang baik dalam pemilihan Ketua PBNU dan Rais Aam sehingga seluruh warga NU bisa bangga terhadap proses dan hasilnya,” tambahnya.


