JCCNetwork.id-CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan potensi terganggunya pasokan minyak dunia apabila penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz terus berlanjut.
Dalam pernyataannya pada Senin (11/5/2026), Nasser menyebut pasar energi global berisiko kehilangan sekitar 100 juta barel minyak per pekan jika distribusi melalui Selat Hormuz tetap terganggu.
“Pasar minyak akan kehilangan sekitar 100 juta barel setiap minggu apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlangsung pada tingkat saat ini dan jalur tersebut tetap ditutup,” ujar Nasser, dikutip dari Reuters.
Ia mengatakan kondisi tersebut dapat menekan aktivitas perdagangan dan distribusi energi internasional karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
“Apabila perdagangan dan pengiriman kembali normal, kami memperkirakan pertumbuhan permintaan akan pulih sangat kuat,” tambahnya.
Menurut Nasser, permintaan minyak global diperkirakan masih tertahan selama arus pengiriman energi belum kembali normal.
Namun, ia menilai konsumsi energi berpotensi pulih signifikan apabila jalur perdagangan kembali dibuka sepenuhnya.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi global.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur strategis bagi ekspor minyak dari negara-negara Teluk. Gangguan di kawasan tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap harga minyak dan stabilitas pasar energi internasional.



