JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada awal perdagangan Kamis, 7 Mei 2026, di tengah respons positif pasar terhadap perkembangan geopolitik global serta optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai tekanan eksternal yang berpotensi menahan penguatan mata uang Garuda.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.37 WIB, rupiah berada di level Rp17.362 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 25 poin atau sekitar 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.387 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.400 per dolar AS pada periode yang sama. Pergerakan kurs dinilai masih dibayangi volatilitas tinggi akibat sentimen global yang terus berkembang.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan berlangsung fluktuatif. Namun, di akhir sesi perdagangan, mata uang domestik berpotensi kembali mengalami tekanan.
“Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.380 per USD hingga Rp17.420 per USD,” jelas Ibrahim.
Menurutnya, penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan dipicu sentimen positif dari pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Pasar memandang langkah tersebut dapat meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang selama beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Trump sebelumnya menyatakan akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz karena adanya kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan tanpa rincian lebih lanjut terkait isi kesepakatan yang dimaksud.
Meski demikian, pemerintah AS tetap menegaskan Angkatan Laut Negeri Paman Sam akan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan Iran. Kondisi tersebut membuat pasar masih berhati-hati mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Ketegangan di kawasan itu meningkat sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari lalu. Situasi keamanan di jalur pelayaran internasional menjadi perhatian utama investor global karena berpotensi mengganggu distribusi energi dan memicu lonjakan harga minyak mentah.
Di sisi lain, sentimen domestik turut menopang optimisme terhadap rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan perekonomian Indonesia mulai menunjukkan percepatan pertumbuhan pada kuartal I-2026 dengan capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen.
Menurut Purbaya, angka tersebut mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang semakin kuat setelah melewati tekanan global dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menilai tren pertumbuhan tersebut akan terus dijaga melalui berbagai kebijakan lanjutan.
Namun demikian, ia mengakui pelaku pasar masih menunjukkan sikap hati-hati. Arus keluar dana dari pasar modal dinilai masih terjadi karena investor belum sepenuhnya yakin terhadap keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan Bank Indonesia, terutama dalam menjaga likuiditas sistem keuangan dan stabilitas pasar. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan paket stimulus tambahan guna mendorong aktivitas ekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memberikan dorongan positif bagi dunia usaha di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.



