JCCNetwork.id- Menteri Sosial Saifullah Yusuf memastikan pemerintah akan melakukan asesmen menyeluruh terhadap seluruh korban kecelakaan kereta api di Bekasi, baik yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap korban dan keluarganya memperoleh bantuan serta program pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Pernyataan tersebut disampaikan Saifullah saat melayat ke rumah duka salah satu korban, almarhumah Hj. Nuryati (63), di kawasan Kemayoran, Jakarta, Rabu. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan pemerintah tidak bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi tiap keluarga terdampak.
Menurutnya, setiap keluarga korban memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga proses asesmen menjadi kunci untuk menentukan jenis intervensi yang tepat.
“Semuanya akan kita lakukan asesmen dan akan kita berikan dukungan program sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kebutuhan setiap keluarga kan berbeda-beda,” kata Saifullah saat takziah ke rumah duka Hj. Nuryati (63) salah satu korban KRL di Kemayoran, Jakarta, Rabu.
Kecelakaan maut tersebut terjadi pada Senin (27/4) sekitar pukul 20.55 WIB di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Insiden melibatkan kereta api jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek dengan rangkaian KRL relasi Kampung Bandan–Cikarang. Tabrakan ini mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka dalam jumlah besar.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 81 lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Pemerintah pun bergerak cepat untuk memastikan penanganan korban berjalan optimal, termasuk melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Saifullah menegaskan bahwa kehadiran negara dalam penanganan korban merupakan arahan langsung dari Presiden, yang meminta agar seluruh keluarga terdampak mendapat perhatian serius, tidak hanya dalam jangka pendek tetapi juga berkelanjutan.
Dalam kunjungannya ke rumah duka, ia juga mengungkapkan bahwa almarhumah Hj. Nuryati merupakan tulang punggung keluarga yang aktif secara sosial. Selain menjalankan usaha warung kecil untuk menghidupi keluarga, almarhumah juga dikenal aktif sebagai pengurus organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama.
“Beliau memiliki usaha warung kecil-kecilan yang selama ini menghidupi keluarga. Kami ingin musibah ini tidak menggoyahkan ekonomi keluarga, maka akan kami dampingi agar usaha tersebut bisa dipertahankan, bahkan kalau perlu naik kelas,” ujarnya.
Kementerian Sosial, lanjutnya, berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga yang ditinggalkan. Salah satu upaya yang disiapkan adalah pendampingan usaha agar dapat terus berjalan, bahkan ditingkatkan skalanya jika memungkinkan.
Untuk tahap awal, pemerintah telah menyalurkan bantuan melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Bantuan tersebut meliputi kebutuhan dasar seperti sembako, santunan tunai, serta dukungan psikososial guna membantu keluarga korban menghadapi trauma akibat peristiwa tersebut.
Meski demikian, Saifullah menekankan bahwa fokus utama pemerintah tidak berhenti pada bantuan darurat. Program jangka panjang berupa pemberdayaan ekonomi akan menjadi prioritas agar ahli waris korban mampu mempertahankan kemandirian finansial.
“Kami akan memberikan pendampingan sesuai hasil asesmen. Kami berterima kasih kepada keluarga yang terbuka menyampaikan kondisinya, sehingga kami bisa menindaklanjuti dan mengaitkan dengan program-program pemerintah,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf.



