JCCNetwork.id- Pemerintah mempercepat implementasi program biodiesel B50 berbasis crude palm oil (CPO) sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kelapa sawit.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan kebijakan pemanfaatan CPO menjadi bahan bakar nabati telah memberikan dampak nyata terhadap pengurangan impor solar dan mendorong aktivitas ekonomi di wilayah perdesaan.
Dalam keterangannya usai meninjau Gudang Bulog Panaikang di Makassar, Sulawesi Selatan, Amran mengungkapkan Indonesia mampu menekan impor solar hingga sekitar 5,3 juta ton pada tahun ini. Kebutuhan tersebut digantikan melalui produksi biofuel berbasis sawit sesuai arahan pemerintah pusat.
“Tahun ini kita tidak impor solar sekitar 5,3 juta ton. Itu kita gantikan dari CPO menjadi biofuel sesuai arahan Presiden,” kata Amran usai meninjau Gudang Bulog Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (5/4).
Menurutnya, penguatan sektor bioenergi menjadi langkah strategis untuk mencapai kemandirian energi nasional sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian desa. Peningkatan aktivitas ekonomi di tingkat petani dinilai berdampak langsung pada kenaikan produksi komoditas sawit nasional.
“Kalau ekonomi desa bergerak, petani kita bergerak semua meningkatkan produksi. Ini yang kita dorong terus,” bebernya.
Amran menjelaskan, kebijakan hilirisasi melalui program biodiesel turut mendorong kenaikan harga CPO di pasar global. Kondisi ini memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan produktivitas kebun mereka. Dampaknya, volume ekspor sawit Indonesia mengalami peningkatan dari sebelumnya sekitar 26 juta ton menjadi 32 juta ton.
“Kita lihat dampaknya, harga CPO naik, petani bekerja keras, dan produksi meningkat signifikan. Ekspor kita juga naik dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton,” kata Amran.
Indonesia saat ini masih menjadi pemain utama dalam industri sawit global dengan penguasaan sekitar 60 persen pasar dunia. Dari total produksi tersebut, sekitar 5 juta ton dialokasikan untuk kebutuhan biofuel domestik, sementara sisanya tetap diarahkan untuk memenuhi permintaan ekspor.
Lebih lanjut, Amran menilai kebijakan penyerapan sebagian produksi CPO untuk kebutuhan energi dalam negeri turut menjaga keseimbangan pasokan global. Penurunan pasokan ekspor secara terbatas berkontribusi terhadap penguatan harga di pasar internasional, yang pada akhirnya menguntungkan petani.
“Ketika kita tarik sebagian untuk biofuel, harga dunia naik. Petani senang karena harga baik, sehingga produksi meningkat. Ini efek berantai yang positif,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan program B50, Kementerian Pertanian berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dipimpin oleh Bahlil Lahadalia serta sejumlah pemangku kepentingan terkait guna memastikan target implementasi dapat tercapai pada tahun ini.
Ke depan, pemerintah juga menyiapkan pengembangan bioenergi berbasis etanol sebagai bagian dari diversifikasi energi terbarukan. Bahan baku yang akan dimanfaatkan meliputi komoditas pertanian seperti singkong, ubi, dan tebu guna memperluas sumber energi alternatif nasional.



