CKG Temukan Ribuan Bayi Berisiko Penyakit Jantung Bawaan

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dijalankan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap temuan penting terkait kondisi kesehatan bayi baru lahir di Indonesia. Hasil skrining nasional menunjukkan ribuan bayi terindikasi berisiko mengalami penyakit jantung bawaan kritis, sehingga membutuhkan pemeriksaan medis lanjutan untuk memastikan diagnosis dan penanganan sedini mungkin.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga 28 Juni 2026, sebanyak 490 ribu bayi baru lahir telah menjalani enam jenis skrining kesehatan dalam Program CKG. Dari jumlah tersebut, sekitar 20.946 bayi atau 4,3 persen terdeteksi memiliki indikasi yang mengarah pada penyakit jantung bawaan kritis.

- Advertisement -

Jika dibandingkan dengan jumlah bayi yang telah diperiksa, temuan tersebut menunjukkan sekitar satu dari setiap 23 bayi memiliki potensi mengalami kelainan jantung bawaan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

Temuan tersebut menjadi salah satu hasil penting dari pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis yang hingga 5 Juli 2026 telah menjangkau sekitar 59,6 juta masyarakat di seluruh Indonesia. Program ini menjadi instrumen pemerintah dalam memetakan kondisi kesehatan masyarakat berdasarkan kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, remaja hingga dewasa.

Penyakit jantung bawaan kritis merupakan kelainan struktur jantung yang telah terjadi sejak masa kehamilan akibat proses pembentukan organ jantung yang tidak sempurna. Kondisi ini kerap tidak menunjukkan gejala yang jelas pada awal kelahiran sehingga skrining dini dinilai sangat penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

- Advertisement -

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan hasil skrining yang terkumpul melalui Program CKG memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai pola penyakit masyarakat di berbagai kelompok usia. Menurutnya, data tersebut akan menjadi dasar pemerintah dalam merancang kebijakan kesehatan yang lebih efektif dan tepat sasaran.

“Sekarang kami memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kami tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA,” kata Menkes dalam siaran persnya, Jumat (17/7/2026).

“Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran, sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif,” tambah Menkes.

Budi menjelaskan setiap kelompok usia memiliki persoalan kesehatan yang berbeda sehingga strategi penanganannya tidak dapat disamakan. Dengan tersedianya data kesehatan yang lebih lengkap, pemerintah dapat memprioritaskan intervensi sesuai kebutuhan masing-masing kelompok masyarakat.

Selain mengidentifikasi potensi penyakit jantung bawaan pada bayi, hasil skrining juga mengungkap berbagai persoalan kesehatan yang mendominasi kelompok usia lainnya.

Pada kelompok anak sekolah dasar (SD), kasus yang paling banyak ditemukan meliputi karies gigi, hipertensi, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.

Sementara itu, pada kelompok usia sekolah menengah pertama (SMP), karies gigi masih menjadi masalah kesehatan yang paling dominan. Selain itu, mulai ditemukan gangguan kesehatan mental berupa depresi, disertai risiko tuberkulosis (TBC), hipertensi, dan persoalan gizi.

Adapun pada kelompok sekolah menengah atas (SMA), angka gangguan kesehatan mental dan depresi tercatat meningkat. Kelompok usia ini juga masih didominasi kasus karies gigi, hipertensi, risiko TBC, hingga obesitas.

Secara nasional, hasil Program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan dengan prevalensi lebih dari 40 persen. Posisi berikutnya ditempati anemia sebesar 27 persen, peningkatan tekanan darah sebanyak 21 persen, penumpukan kotoran telinga sebesar 7 persen, serta obesitas yang juga mencapai 7 persen.

Kementerian Kesehatan menilai data tersebut menjadi pijakan penting dalam memperkuat upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan. Pemerintah berharap deteksi dini melalui Program CKG mampu meningkatkan peluang pengobatan lebih cepat, menekan risiko komplikasi penyakit, sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Menteri Kesehatan menegaskan Program Cek Kesehatan Gratis tidak hanya berfokus pada pendataan penyakit, tetapi juga memastikan setiap masyarakat yang teridentifikasi memiliki risiko kesehatan memperoleh tindak lanjut dan pelayanan medis yang sesuai. Menurutnya, langkah tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

“Tujuan kami bukan sekadar mengumpulkan data siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat, bugar, dan produktif. Cek Kesehatan Gratis ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa,” pungkasnya.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Febrie Didampingi Hotman Saat Diperiksa Kejagung

JCCNetwork.id- Pengacara senior Hotman Paris Hutapea resmi ditunjuk sebagai kuasa hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah yang kini berstatus...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER