JCCNetwork.id-Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali memamerkan kekuatan militer negaranya dengan mengemudikan langsung peluncur roket multipel berkemampuan nuklir dalam sebuah demonstrasi besar di Pyongyang.
Aksi tersebut dilaporkan media resmi Korean Central News Agency (KCNA) berlangsung pada Rabu (18/2/2026) di lapangan dekat Gedung Kebudayaan 25 April.
Dalam rekaman yang dirilis KCNA, sebanyak 50 kendaraan pengangkut sistem roket kaliber 600 milimeter berjajar dalam tujuh baris. Setiap kendaraan berporos empat itu membawa lima tabung roket.
Kim terlihat mengenakan jaket hitam dan turun dari kendaraan peluncur di dekat panggung utama, disambut ribuan warga yang mengibarkan bendera nasional. Foto lain memperlihatkan dirinya tersenyum saat berada di balik kemudi kendaraan tersebut.
KCNA menyebut Kim secara pribadi mengemudikan peluncur untuk meninjau persenjataan yang disebut sebagai simbol “kekuatan absolut” negara itu.
Media pemerintah Korea Utara secara rutin menampilkan citra kepemimpinan Kim dalam kegiatan militer guna memperkuat legitimasi domestik sekaligus mengirimkan pesan tegas kepada pihak luar.
Demonstrasi militer ini digelar menjelang Kongres Partai ke-9 yang dijadwalkan berlangsung bulan ini. Korea Utara kerap meningkatkan propaganda dan unjuk kekuatan militer menjelang agenda politik penting tersebut.
Dalam pidatonya, Kim mengklaim roket 600 mm itu memiliki kemampuan setara rudal balistik jarak pendek dan dilengkapi sistem pemandu berbasis kecerdasan buatan. Ia menyebut sistem tersebut tidak dimiliki negara lain dan telah mengubah konsep artileri dalam peperangan modern.
Kim juga mengisyaratkan kemungkinan pameran persenjataan tambahan dalam waktu dekat serta menyerukan percepatan produksi senjata guna mendukung strategi pertahanan nasional.
Sistem roket 600 mm bukan pertama kali dipamerkan Pyongyang. Pada akhir 2022, Korea Utara menampilkan 30 peluncur roket serupa yang dipasang pada kendaraan berantai dengan kapasitas enam roket per unit.
Saat itu, KCNA menyatakan sistem tersebut mampu menjangkau seluruh wilayah Korea Selatan dan dapat dipersenjatai hulu ledak nuklir taktis.
Sejumlah pemantau internasional memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir, dengan cadangan bahan fisil yang cukup untuk memproduksi tambahan 30 hingga 40 hulu ledak.
Selain peluncur roket multipel, Pyongyang juga mengembangkan berbagai sistem pengantar senjata nuklir, mulai dari rudal balistik antarbenua hingga senjata jarak pendek untuk kawasan Semenanjung Korea dan Pasifik Barat.
Pameran tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia dalam konflik di Ukraina. Pyongyang dilaporkan memasok rudal serta ribuan personel kepada Moskow.
Sejumlah analis menilai pengalaman tempur dan potensi transfer teknologi dari Rusia dapat mempercepat pengembangan sistem persenjataan Korea Utara.
Sementara itu, ketegangan antara Pyongyang dan Seoul tetap tinggi. Korea Selatan didukung puluhan ribu pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di wilayahnya.
Korea Utara sendiri memiliki ribuan unit artileri konvensional yang ditempatkan dekat perbatasan dan berpotensi menimbulkan kerusakan besar.
Laporan tahun 2020 dari RAND Corporation menyebut hampir 6.000 sistem artileri Korea Utara berada dalam jangkauan pusat populasi utama Korea Selatan.
Jika digunakan untuk menyerang target sipil, sistem tersebut diperkirakan dapat menimbulkan lebih dari 10.000 korban jiwa dalam satu jam pertama serangan.
Dengan latar belakang tersebut, demonstrasi terbaru di Pyongyang menegaskan komitmen Korea Utara memperkuat kemampuan pertahanan di tengah dinamika keamanan regional yang semakin kompleks, sekaligus menjelang agenda politik strategis di dalam negeri.



